Masjid Agung Ahmad Bakrie Kisaran terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, tepatnya di seberang kantor Bupati Asahan.
Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pertama kali pada hari
Rabu tanggal 5 Agustus 2015 Masehi, bertepatan dengan pelaksanaan
Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Acara peresmian penggunaan ditandai dengan sholat Zuhur berjamaah
bersama Bupati Asahan, H. Taufan Gama Simatupang disertai silaturahmi
Pemkab Asahan bersama SKPD, FKUB, Forkopinda, tokoh masyarakat dan
agama, camat, lurah dan kades bersama ratusan masyarakat.
Masjid termegah di Asahan ini mulai dibangun sejak tahun 2011. Dikuti
dari situs resmi Pemkab Asahan, peletakan batu pertama pembangunan
dilakukan oleh Abu Rizal Bakrie.
Masjid ini berdiri di atas lahan eks HGU PT Bakrie Sumatra Plantations
(BSP) seluas empat hektar dengan empat menara dan dua lantai. Jika
dilihat dari kejauhan mesjid ini memiliki desain model bangunan yang
mirip dengan Taj Mahal di India. Disebutkan juga, bahwa dana
pembangunannya bersumber dari APBD Asahan dan sumbangan umat muslim.
Bertindak sebagai ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM
Syafii.
http://www.armansyah.my.id
Wednesday, 13 January 2016
Wednesday, 6 January 2016
FlashBack Kebahagiaan yang hilang (melalui permainan anak)
Mau tidak mau,suka tidak suka dengan semakin berkembangnya teknologi yang begitu pesat hingga
merambah wilayah daerah/pedesaan, semakin menjadikan alasan sebuah
kepraktisan salah satu sebab mengapa banyak anak2 yang enggan melakukan
permainan tradisional. Dengan ketergantungan mereka akan permainan2 yg
lebih modern & berteknologi, seorang anak berpikir tanpa perlu
ketergantungan dengan orang lain. Maksudnya mereka bisa bermain sendiri
tanpa harus mencari teman seperti halnya permainan tradisional yang
membutuhkan beberapa pemain (2 atau lebih pemain).
Sepintas memang terlihat tdk begitu mengkhawatirkan dan para orang
tua juga merasa lebih senang karena kalo anak2 mereka tidak bermain yang
berbahaya atau membuat baju jadi kotor. Padahal dengan membiarkan anak2
tenggelam dalam permainan yang berbau teknologi tsb akan merusak
mental&perkembangan jiwa mereka. Sehingga akan tumbuh menjadi
seorang yang egois serta individualis dan enggan bekerja keras karena
sudah terpola berpikir praktis.
Kenapa?karena dalam permainan tradisional secara tidak langsung akan
mengajari mereka untuk lebih kreatif, hidup bersosialisasi, kekompakan,
dan melatih fisik (seperti halnya berolahraga). Ada berbagai macam
permainan tradisional diantaranya:
Layangan
Permainan layangan ini sangat begitu mengasyikkan, karena kita dituntut supaya
gigih agar layangan tersebut bisa naik tinggi ke langit. Saya bukan saja senang
menaikkan layangan tersebut ke langit tetapi juga pandai untuk membuatnya.
Menaikkan layangan ini juga membutuhkan sedikit teknik, agar layangan itu dapat
dikontral naik ke atas dan menghindari menukit ke bawah.
Layangan ini juga membutuhkan tali yang sesuai dengan daya tegangannya, agar benang tidak terlalu kendor ataupun putus saat sudah melayang ke atas. Benang yang terlalu kendor mngakibatkan menurunnya ketinggian layangan, sedangkan benang yang putus disebakan karena benang tersebut terlalu tipis sehingga tidak mampu menahan tegangan saat angin berhembus kencang ataupun saat benang bergesekkan dengan benang layangan orang lain. Hal yang menyebalkan, apabila layangan tidak bisa naik karena mesti di atur dulu regangan di “taraju” itu bahasa di daerah Minang kampung saya. Atau saat layangan naik tapi malah nyangkut di pohon ataupun di tiang listrik, lebih parahnya saat layangan itu putus, kalau mau kembali layangan mesti jadi pelari marathon yang bisa juara satu ditambah lagi pandai panjat tebing kalau layangannya putus nyangkut di pohon atau di atas rumah orang. Itulah sedikit cerita saat aku main layangan dulu.
Sunday, 20 December 2015
BOYBAND “LAKI” Spirit Estetis “Jangan Marah”
Agama dan seni memiliki bilik-bilik spiritual yang hampir sama. Keduanya merupakan sistem nilai dan sistem simbol, yang menuntut para penganut atau pelakunya untuk selalu menghidupi segala dimensinya. Sementara fitrah manusia memiliki potensi teologis (iman-keyakinan), berpikir (pengetahuan yang bersifat empiris) dan ber-olah rasa (naluri keindahan yang bersifat estetis). Ketiganya merupakan kesatuan integral untuk merengkuh manfaat (rahmatan lil’alamiin).
“Pemikiran inilah yang melatar belakangi proses kreatif kami dari Humaniora & Positif Art Management, yang melahirkan berbagai ekspresi dan kreativitas seni manfaat. Salah satunya melalui grup vokal pria (boyband) LAKI,” ungkap Sujana, Produser dari grup boyband anyar ini, kepada galamedianews.com, di markasnya, di Cibubur Jakarta, Jum’at (4/12/2015).
Grup vokal pria (boyband) “LAKI” memiliki filosofi makna, bahwa : LAKI itu pemimpin. LAKI itu kemuliaan, kewibawaan, harkat, dan martabat. LAKI itu tangguh. LAKI itu melindungi. LAKI itu memelihara. LAKI itu tanggung jawab. LAKI (baca juga lucky : beruntung). Sebab LAKI lebih baik dari yang lain.
“Pemikiran inilah yang melatar belakangi proses kreatif kami dari Humaniora & Positif Art Management, yang melahirkan berbagai ekspresi dan kreativitas seni manfaat. Salah satunya melalui grup vokal pria (boyband) LAKI,” ungkap Sujana, Produser dari grup boyband anyar ini, kepada galamedianews.com, di markasnya, di Cibubur Jakarta, Jum’at (4/12/2015).
Grup vokal pria (boyband) “LAKI” memiliki filosofi makna, bahwa : LAKI itu pemimpin. LAKI itu kemuliaan, kewibawaan, harkat, dan martabat. LAKI itu tangguh. LAKI itu melindungi. LAKI itu memelihara. LAKI itu tanggung jawab. LAKI (baca juga lucky : beruntung). Sebab LAKI lebih baik dari yang lain.
Thursday, 1 October 2015
Kesaktian Pancasila
Tepat tanggal 1 oktober,
kita kembali memperingati hari yang sangat krusial bagi terciptanya
kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Mungkin kini
banyak yang lupa atau bahkan melupakan hari kesaktian Pancasila,
sebab seiring perkembangan teknologi dan informasi yang semain pesat,
kita pun seakan terbius untuk melupakan sejarah yang sangat penting
sebagai wujud terbentuknya dasar negara kepulauan, Indonesia.
Peringatan
Kesaktian Pancasila ini berakar pada sebuah peristiwa tanggal 30
September 1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G.30.S/PKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.
Pada
saat itu setidaknya ada enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya
dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun, berkat kesadaran untuk
mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka,
tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30
September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian
Pancasila dalam sejarah Republik Indonesia.
Pancasila
tentulah mengandung nilai filosofi yang sejak dahulu telah lahir dan
ditumbuhkembangkan oleh nenek moyang kita. Maka, sudah sepantasnya kita
harus kembali merenungkan dan menelaah kembali sudah sejauh mana penyelenggaraan serta pencapaian bangsa dan negara ini dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila sebagai pandangan hidup
Pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa, merupakan pedoman tingkah laku bagi
warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Nilai-nilai Pancasila
yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia merupakan sari dan puncak
dari sosial budaya yang senatiasa melandasi tata kehidupan sehari-hari.
Tata
nilai sosial budaya yang telah berkembang dan dianggap baik, serta
diyakini kebenarannya ini dijadikan sebagai pandangan hidup dan sumber
nilai bagi bangsa Indonesia. Sumber nilai yang terkandung tersebut
yakni, (1) keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, (2) asas kekeluargaan,
(3) asas musyawarah mufakat, (4) asas gotong-royong, serta (5) asas
tenggang rasa.
Sunday, 27 September 2015
APA KABAR BUDAYA NEGERI ?
Banyak generasi penerus bangsa yang acuh tak acuh terhadap bangsanya
sendiri. Tidak percaya ? Coba tanya remaja sekarang, siapa itu wonder
girls ? siapa itu super junior ? sebagian besar dari mereka pasti tahu
jawabannya. Tapi bagaimana jika pertanyaan yang diajukan adalah, dari
mana asal Tarian Gubang? Apa jawabannya?
Saya coba menanyakan hal ini langsung kepada seorang siswa sekolah menengah atas. Ketika diajukan pertanyaan pertama tentang wonder girls tadi, sang remaja putri ini dengan lugas menjawab, "Wonder Girls itu girls band gitu loh yang dari Korea yang cantik-cantik sama sexy-sexy."
Lalu tibalah pada pertanyaan kedua. Mendengar pertanyaan tersebut saya ajukan, remaja cantik ini langsung menatap saya heran sambil mengernyitkan dahinya. "Gubang?, emang ada ya bang nama tarian kayak gitu?"
"Ada dong!" jawab saya. "Gubang itu tarian daerah yang asalnya dari Asahan "Oh.." katanya sambil lalu.
Melihat kenyataan di atas. Tidak dapat dipungkiri, posisi kebudayaan negeri sendiri mulai tergeser dengan budaya dari negeri orang. Tidak dapat dipungkiri, semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu tujuan pun mulai terkikis dari hati masyarakat Indonesia yang pada akhirnya merubah keadaan sosial masyarakat itu sendiri.
Bagaimana itu bisa terjadi ?
Banyak faktor yang menyebabkan perubahan sosial di dalam masyarakat. Soejono Soekanto menyebutkan 8 faktor yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Factor tersebut antara lain mencakup sistem pendidikan yang semakin maju, sikap menghargai hasil karya orang lain, sistem yang transparan di masyarakat, toleransi terhadap perbuatan menyimpang, ketidak puasan masyarakat terhadap bidang - bidang kehidupan yang akhirnya menimbulkan kebosanan, masyarakat yang heterogen dan anonym, hingga kepada semakin mudahnya kontak dengan masyarakat luar yang akhirnya menyebabkan terjadinya pencampuran budaya.
Dewasa ini, Hal - hal baru selalu terlihat lebih menarik dibandingkan dengan sesuatu yang memang sudah lama ada. Istilahnya, kalau sudah lama ada itu sudah basi! Sudah tidak penting untuk dibahas. Kebalikannya, kita sebagai anak muda itu harus selalu up to date terhadap hal-hal baru. Justru kalau kita tidak tahu trend terbaru, kita bisa dibilang kampungan. Nggak mengikuti perkembangan jaman.
Yang jadi pertanyaan selanjutnya bagi saya adalah perkembangan jaman seperti apa yang seharusnya diikuti oleh generasi muda kita?
Saya coba menanyakan hal ini langsung kepada seorang siswa sekolah menengah atas. Ketika diajukan pertanyaan pertama tentang wonder girls tadi, sang remaja putri ini dengan lugas menjawab, "Wonder Girls itu girls band gitu loh yang dari Korea yang cantik-cantik sama sexy-sexy."
Lalu tibalah pada pertanyaan kedua. Mendengar pertanyaan tersebut saya ajukan, remaja cantik ini langsung menatap saya heran sambil mengernyitkan dahinya. "Gubang?, emang ada ya bang nama tarian kayak gitu?"
"Ada dong!" jawab saya. "Gubang itu tarian daerah yang asalnya dari Asahan "Oh.." katanya sambil lalu.
Melihat kenyataan di atas. Tidak dapat dipungkiri, posisi kebudayaan negeri sendiri mulai tergeser dengan budaya dari negeri orang. Tidak dapat dipungkiri, semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu tujuan pun mulai terkikis dari hati masyarakat Indonesia yang pada akhirnya merubah keadaan sosial masyarakat itu sendiri.
Bagaimana itu bisa terjadi ?
Banyak faktor yang menyebabkan perubahan sosial di dalam masyarakat. Soejono Soekanto menyebutkan 8 faktor yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Factor tersebut antara lain mencakup sistem pendidikan yang semakin maju, sikap menghargai hasil karya orang lain, sistem yang transparan di masyarakat, toleransi terhadap perbuatan menyimpang, ketidak puasan masyarakat terhadap bidang - bidang kehidupan yang akhirnya menimbulkan kebosanan, masyarakat yang heterogen dan anonym, hingga kepada semakin mudahnya kontak dengan masyarakat luar yang akhirnya menyebabkan terjadinya pencampuran budaya.
Dewasa ini, Hal - hal baru selalu terlihat lebih menarik dibandingkan dengan sesuatu yang memang sudah lama ada. Istilahnya, kalau sudah lama ada itu sudah basi! Sudah tidak penting untuk dibahas. Kebalikannya, kita sebagai anak muda itu harus selalu up to date terhadap hal-hal baru. Justru kalau kita tidak tahu trend terbaru, kita bisa dibilang kampungan. Nggak mengikuti perkembangan jaman.
Yang jadi pertanyaan selanjutnya bagi saya adalah perkembangan jaman seperti apa yang seharusnya diikuti oleh generasi muda kita?
Sunday, 13 September 2015
Film: Aset Budaya Bangsa yang Harus Dilestarikan....!
disadur dari http://perfilman.pnri.go.id/artikel/detail/106
Oleh: Kalarensi
Naibaho
Pengantar
Di suatu pagi di sebuah perpustakaan, seorang siswa
SMU sedang sibuk mencari literatur berupa buku atau bahan pustakamengenai Loetoeng
Kasaroeng. Gurunya menyuruh membuat esai mengenai legenda dari Jawa Barat itu. Siswa
tersebut pun larut dalam bacaan dan literatur yang diperolehnya di
perpustakaan. Beberapa buku dan majalah dilahapnya sampai memiliki bahan yang
cukup banyak untuk membuat suatu esai. Namun dalam lubuk hatinya, siswa
tersebut ingin sekali melengkapi informasi untuk esai itu dari film tentang Loetoeng
Kasaroeng yang terkenal itu. Tapi, kemana harus mencarinya?
Di tempat lain, seorang mahasiswa sedang dilanda
kebingungan. Pasalnya, mahasiswa sastra tersebut sedang menyelesaikan skripsi
mengenai dialek masyarakat Jakarta di era 60 sampai 70an. Beberapa literatur
yang dibacanya tidak dapat memberikan gambaran jelas mengenai dialek yang
ditulisnya.Mahasiswa tersebut yakin bahwa jika seandainya ada koleksi audio
visual seperti film yang dapat dia akses dengan mudah, pastilah skripsinya akan
lebih sempurna. Tapi, dimana dapat memperolehnya?
Di sebuah kampus, seorang dosen muda sedang
getol-getolnya melakukan penelitian mengenai cara masyarakat berinteraksi dalam
kehidupan sehari-hari sejak era lima puluhan sampai dekade sembilan puluh.
Literatur yang ada cukup banyak memberi informasi dan gambaran mengenai topik
tersebut, tapi dosen tersebut merasa akan lebih lengkap jika dapat melihat
sebuah naskah dalam bentuk audio visul. Film misalnya. Tapi, dimana mencarinya?
Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa masyarakat cukup
menyadari tentang keberadaan film sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Sama
seperti buku yang memiliki masa dan pembacanya, maka film pun memiliki jaman
dan pemirsanya. Terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya,
film tetaplah bagian dari budaya sebuah bangsa. Dan sebagai bagian dari
khasanah budaya bangsa, seharusnya film juga mendapat perlakuan yang sama
dengan koleksi lain. Film harus mudah diakses masyarakat luas.
Tulisan ini tidak bermaksud mengkaji persoalan
kualitas atau mutu sebuah film, namun lebih fokus pada pelestarian dan akses ke
film sebagai bagian dari informasi yang mencerminkan perkembangan budaya bangsa
Indonesia.
Mengapa
film?
Ada beberapa pengertian tentang film. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (1990 : 242), film adalah
selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan
dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di
bioskop). Film juga diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup. Dari
definisi yang pertama, kita dapat membayangkan film sebagai sebuah benda yang
sangat rapuh, ringkih, hanya sekeping compact disc (CD). Tapi di sisi lain,
pengertian ke dua memberi gambaran yang lebih kompleks, sebagai perekam sejarah
yang baik.
Monday, 24 August 2015
Apa kata gadis asal Venlo Tentang Asahan
Ini adalah gadis belia asal Venlo Limburg Nederland. Kandidat kuat
pemeran Annemie, dalam film “Annemie in Buitengewesten” garapan sutradara asal Kisaran, Eddie
Karsito.
Usianya baru 16 tahun. Namun pemikirannya melampaui batas usianya. Ia
penulis fiksi (novel), selain penyanyi dan pencipta lagu. Menguasai 5 bahasa; Belanda, Inggris, Prancis,
Indonesia, dan bahasa daerah (Jawa).
Kisah hidupnya memiliki kemiripan dengan sosok Annemie, wanita yang
dikisahkan dalam film“Annemie
in
Buitengewesten.”Annemie
(22 tahun), adalah warga negara Belanda, mahasiswi Universiteit
van Amsterdam, jurusan ilmu sejarah, seni dan budaya. Ia datang ke Indonesia (Medan,
Kisaran,
Tanjung Balai Asahan, Batubara) dalam rangka studi/observasi
melengkapi penyusunan tesis program S2 untuk mendapat gelar Magister
Humaniora.
“Wonen in Asahan gaat om een lang verhaal. And Make me stay longer here
(Tinggal di Asahan akan menjadi cerita panjang. Dan membuat saya tinggal lebih
lama di sini,” kata gadis asal Venlo Limburg Belanda ini, saat berkunjung ke Seni
Pemersatu Jiwa – Humaniora Foundation, Jakarta. Rabu, 22 April 2015 lalu.
Apa yang mendorong si cantik bule yang mendukung produksi film Annemie in
Buitengewesten ini? “De geest van jullie waarderen (menghargai semangat kalian),”
katanya singkat dengan senyum mengembang.
“Een nieuwe ervaring voor mij als een meisje uit Venlo Limburg
Nederland. Ik zou graag willen weten hoe u ondersteunen een cultuur met andere
culturen blijven ontvangen. Vasthouden aan de waarden voor de styling van je
hart en geest. Ik denk dat het is spannend, en het laat me blijven hier veel
langer, of misschien voor altijd. Hoop dat de Asahan een "nieuwe
huis" voor mij….”
“Ini pengalaman baru bagi
saya sebagai seorang gadis dari Venlo Limburg Belanda. Saya ingin tahu bagaimana cara Anda mempertahankan
budaya dengan tetap menerima budaya lain. Dan kita harus berpegang teguh pada nilai untuk menata
hati dan pikiran. Saya pikir itu menarik, dan itu membuat saya tinggal
di sini lebih lama, atau mungkin selamanya. Berharap Asahan "rumah
baru" untukku….,” kata
gadis yang namanya hanya ingin dikenal sebagai Annemie.
“Annemie in Buitengewesten”
adalah potret cerita silam, kini dan esok, yang menyoal “Toean Keboen” dan “Koeli Kontrak” di era kolonial Belanda.
Tentang manusia Jawa, yang terdorong menjadi buruh perkebunan di Sumatera
Timur. Melahirkan peradaban baru (akulturasi budaya) menjadi ”Jawa Deli” atau
”Pujakesuma” (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Tentang cinta kasih abadi sang
Noni, anak “Toean Keboen” dengan pemuda Jawa tampan, pemain Sandiwara tradisi
(Ludruk), anak “koeli kontrak” di Keboen Goerah Batoe Asahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)












