Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Sunday, 13 September 2015

Film: Aset Budaya Bangsa yang Harus Dilestarikan....!

disadur dari http://perfilman.pnri.go.id/artikel/detail/106



Oleh: Kalarensi Naibaho


Pengantar

Di suatu pagi di sebuah perpustakaan, seorang siswa SMU sedang sibuk mencari literatur berupa buku atau bahan pustakamengenai Loetoeng Kasaroeng. Gurunya menyuruh membuat esai mengenai legenda dari Jawa Barat itu. Siswa tersebut pun larut dalam bacaan dan literatur yang diperolehnya di perpustakaan. Beberapa buku dan majalah dilahapnya sampai memiliki bahan yang cukup banyak untuk membuat suatu esai. Namun dalam lubuk hatinya, siswa tersebut ingin sekali melengkapi informasi untuk esai itu dari film tentang Loetoeng Kasaroeng yang terkenal itu. Tapi, kemana harus mencarinya?

Di tempat lain, seorang mahasiswa sedang dilanda kebingungan. Pasalnya, mahasiswa sastra tersebut sedang menyelesaikan skripsi mengenai dialek masyarakat Jakarta di era 60 sampai 70an. Beberapa literatur yang dibacanya tidak dapat memberikan gambaran jelas mengenai dialek yang ditulisnya.Mahasiswa tersebut yakin bahwa jika seandainya ada koleksi audio visual seperti film yang dapat dia akses dengan mudah, pastilah skripsinya akan lebih sempurna. Tapi, dimana dapat memperolehnya?

Di sebuah kampus, seorang dosen muda sedang getol-getolnya melakukan penelitian mengenai cara masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari sejak era lima puluhan sampai dekade sembilan puluh. Literatur yang ada cukup banyak memberi informasi dan gambaran mengenai topik tersebut, tapi dosen tersebut merasa akan lebih lengkap jika dapat melihat sebuah naskah dalam bentuk audio visul. Film misalnya. Tapi, dimana mencarinya?

Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa masyarakat cukup menyadari tentang keberadaan film sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Sama seperti buku yang memiliki masa dan pembacanya, maka film pun memiliki jaman dan pemirsanya. Terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya, film tetaplah bagian dari budaya sebuah bangsa. Dan sebagai bagian dari khasanah budaya bangsa, seharusnya film juga mendapat perlakuan yang sama dengan koleksi lain. Film harus mudah diakses masyarakat luas.

Tulisan ini tidak bermaksud mengkaji persoalan kualitas atau mutu sebuah film, namun lebih fokus pada pelestarian dan akses ke film sebagai bagian dari informasi yang mencerminkan perkembangan budaya bangsa Indonesia.




Mengapa film?

Ada beberapa pengertian tentang film. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (1990 : 242), film adalah selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop). Film juga diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup. Dari definisi yang pertama, kita dapat membayangkan film sebagai sebuah benda yang sangat rapuh, ringkih, hanya sekeping compact disc (CD). Tapi di sisi lain, pengertian ke dua memberi gambaran yang lebih kompleks, sebagai perekam sejarah yang baik.

Monday, 29 June 2015

Artis “Papan Atas” Casting Puluhan Kali, Ditolak Berkali-kali…?

disadur dari buku Menjadi Bintang ( Kiat sukses Jadi artis panggung, film dan televisi ) karya Eddie Karsito


Aktor dan aktris merupakan unsure penting di produksi film dan pementasan drama panggung ( teater ). Dengan dukungan actor dan aktris yang baik memungkinkan produksi film dan teater lebih baik dan bermutu.

Pemilihan actor dan aktris untuk mendukung produksi film lazim disebut Casting. Pemilihan actor dan aktirs ( casting ) disesuaikan dengan kebutuhan karakter peran berdasarkan Tuntutan Skenario ( Cerita ). Casting menjadi prosedur standar yang harus dilakukan bilamana sebuah perusahaan film akan memproduksi sebuah film, baik itu film televise maupun bioskop.

Tekhnik dan Manfaat Casting
            Casting dapat dipakai sebagai sarana pembentukan watak atau prilaku seseorang. Casting juga berguna untuk proses penyembuhan terhadap ketidakseimbangan psikologis seseorang (theurapic casting). Dengan cara memberikan kesempatan kepada actor untuk memerankan tokoh tertentu dan watak tertentu. Misalnya orang yang ragu-ragu diberi watak menjadi orang yang tegas dan cepat mengambil keputusan.

Melalui theurapiic casting, sutradara atau pimpinan grup teater dapat membantu proses terapi bagi para anggotanya yang membutuhkan bimbingan dan arahan diluar aktifitas panggung. Namun ada juga yang disebut Anti Type Casting, yaitu pemilihan peran yang bertentangan dengan watak dan cirri fisik pemain. Dalam komunitas teater ( drama panggung ) sering disebut Educational Casting. Karena bertujuan mendidik seseorang memerankan watak dan tokoh yang berlawanan dengan watak dan cirri fisiknya.
            

Lalu ada Casting by Ability. Yaitu pemilihan peran berdasarkan kecakapan dan kemahiran seorang actor. Oleh karena itu, kecerdasan memiliki peranan penting bagi seorang actor.
            
Casting by Type. Yaitu pemilihan peran berdasarkan atas kecocokan fisik dan latar belakang social pemain. Contoh, tokoh tua diperankan oleh orang tua, tokoh jangkung diperankan oleh orang yang berbadan tinggi dan lain-lain.
            
Casting to Emotional Temperament. Yaitu pemilihan peran berdasarkan observasi kehidupan pribadi calon pemeran. Mereka yang mempunyai banyak kecocokan dengan peran yang akan dibawakan dalam hal emosi dan tempramennya akan terpilih membawakan tokoh tersebut.
            
Casting dilakukan setelah ada penentuan ide cerita ( scenario ) film yang akan diproduksi. Tetapi ada juga casting yang dilakukan tanpa tanpa menunggu penentuan scenario film yang akan diproduksi. Hal ini dilakukan untuk mencari stok pemain, persiapan jika sewaktu – waktu ada kebutuhan peran mendadak.       

Thursday, 25 June 2015

Dasar - Dasar Dalam Pembuatan Film

Hai sahabat.....!!! Pernah gak kita membayangin gimana sih sebenarnya atau apa saja sih proses dalam pembuatan sebuah film itu...??? Disini kami mencoba untuk berbagi kepada para sahabat Dasar - Dasar Dalam Pembuatan/ Produksi Sebuah Film.....Cekidot...hehehehe....

Film yang baik tentunya memiliki cara pembuatan yang baik dan sesuai kaidah. Proses pembuatan film sering disebut sebagai filmmaking. Filmamaking melibatkan bebarapa tahap, antara lain ide, naskah, casting, shooting, editing, dan screening sebelum film dirilis secara besar-besaran.

Proses filmmaking dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia dengan berbagai konteks ekonomi, sosial, politik, serta menggunakan teknologi dan teknik yang sistematik. cara pembuatan film yang satu dengan lain pada dasarnya sama, yang membedakan adalah tantangan untuk mewujudkan step by step pembuatan tersebut.

Nah, kamu pecinta film dan ingin mencoba membuat film sendiri? Yuk, pahami dasar-dasar cara pembuatan film berikut ini!

1. Menentukan Ide Cerita
Buatlah sebuah ide cerita untuk filmmu. tentukan terlebih dulu genre film yang ingin kamu buat. Drama, horor, action, atau genre lain. Usahakan untuk menciptakan ide cerita yang tidak pasaran. Kalau toh kamu ingin mengangkat cerita yang sudah umum, kemaslah dengan unik. Selain itu, cobalah untuk menentukan tema cerita yang familiar dengan masyarakat karena biasanya masyarakat suka menintin film yang “ini kisah gue banget loh”.

2. Tentukan Sasaran Penonton
Setelah menentukan ide cerita dan tema. Tentukan pula film ini ingin ditujukan untuk siapa? Apakah anak-anak, remaja, atau dewasa? menentukan segmentasi penonton akan mempermudah kita membuat alur cerita yang menarik.

3. Membuat Sinopsis Film
Sinopsis adalah komponen yang harus ada dalam sebuah film. Semua film memerlukan sinopsis, tidak terkecuali film dokumenter. Tulislah sinopsis yang ringkas, padat, jelas, tepat sasaran dengan konflik yang jelas, dan ending yang bisa memberi kejutan bagi penonton.

4. Menulis Skenario
Setelah membuat sinopsis singkat, langkah selanjutnya adalah menulis skenario. Skenario ini bisa kamu tulis sendiri atau meminta orang lain (yang kompeten) untuk menuliskannya. Skenario harus ditulis seecara detail dan rinci. Dimana scene akan diambil (apakah diluar atau di dalam ruangan), bagaimana ekspresi dan gerak-gerik para pemain, serta penjelasan dilokasi mana mereka akan mengambil gambar.

5. Menyiapkan Alat-alat Teknis
Tentukan story board (alat perencanaan yang menggambarkan urutan kejadian berupa kumpulan gambar dalam sketsa sederhana), tentukan lokasi yang sesuai dengan skenario. Siapkan kru, lampu, kamera, setting, property, kostum, make up team, dll.

6. Tentukan Budget
Setelah menentukan semua alat teknis dan pemain yang kita inginkan, maka kita harus membuat anggaran agar tidak melebihi budget yang sudah kamu tentukan. seandainya anggaran melebihi budget mungkin kamu bisa menyiasati dengan “sewa” entah itu sewa kostum, properti atau alat sehingga biaya tidak terlampau membengkak.
7. Syuting dan Editing
Setelah ke enam komponen persiapan siap dan izin untuk pembuatan film sudah turun, maka kamu sudah bisa memulai proses syuting sesuai dengan skenario yang ada. Apabila proses syuting sudah selesai maka langkah selanjutnya adalah mengedit film berdasarkan urutan scene dalam skenario.

8. Review dan Revisi
Setelah melalui tahap editing bukan berarti film sudah jadi. Alangkah baiknya jika kamu meriviewhasil film yang sudah ada kemudian melakukan revisi apabila ada scene yang jelak dan tidak sesuai dengan skenario. Scene tersebut bisa kamu buang atau kamu ganti dengan yang baru.

9. Buat Promosi
Setelah semua proses pembuatan selesai, saatnya kamu mempromosikan film yang kamu buat dengan berbagai media. Bisa melalui web, blog, twitter, facebook, poster, trailer, dan media lain.

10. Masukkan dalam DVD
Setelah seluruh proses persiapan, pembuatan, dan revisi selesai. Kamu bisa memasukkan film tersebut dalam keping DVD untuk digandakan. Entah itu untuk keperluan pribadi atau promosi.

Setelah memahami kesepuluh proses dasar pembuatan film ini, saatnya kamu menciptakan filmmu sendiri. Mulailah untuk latihan menulis skenario terlebih dahulu .

inilah 10 Dasar dalam pembuatan film...
Bagi sahabat yang memang ingin langsung terjun...jangan khawatir...Seni Pemersatu Jiwa dan Humaniora Foundation membuka kesempatan buat kawula muda untuk ikut berperan/belajar ( menjadi crew ) didalam produksi film "Annemie In Buitengewesten" karya Eddie Karsito....GRATISSSS....!!!! 

Tuesday, 14 April 2015

Annemie In Buitengewesten FIlm By Eddie Karsito

Film By Eddie Karsito


“Wij nog steeds hebben familie hier, maar weet niet de exacte,” kata Annemie, gadis belia nan cantik asal Belanda. Ia mengaku punya keluarga di Kisaran Asahan Sumatera Utara, tetapi tak tahu persisnya.

“Ik kwam hier uitvoering van onze voorouders lijk as te worden begraven met haar dochter in de Buiten Gewesten,” Annemie menjelaskan, sambil menyerahkan dua kotak abu jenazah leluhurnya Dirck-Margreet, agar dimakamkan disamping makam putrinya Arabella Van Dirck yang telah lebih dulu meninggal sebelum kepulangannya ke Belanda di tahun 1933.

 “Annemie in Buiten Gewesten” adalah potret cerita silam, kini dan esok, yang menyoal “Toean Keboen”  dan “Koeli Kontrak” di era kolonial Belanda. Tentang manusia Jawa, yang terdorong menjadi buruh perkebunan di Sumatera Timur. Melahirkan peradaban baru (akulturasi budaya) menjadi ”Jawa Deli” atau ”Pujakesuma” (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Tentang cinta terlarang sang Noni, anak “Toean Keboen” dengan pemuda Jawa tampan, pemain Sandiwara tradisi (Ludruk), di Keboen Goerah Batoe Asahan.

Tentang indahnya destinasi wisata Arung Jeram Sungai Asahan, yang banyak diminati rafter profesional internasional. Arung Jeram Sungai Asahan menempati posisi ketiga tersulit di dunia setelah sungai zambesi di Afrika dan sungai Colorado di Amerika.





Ringkasan Cerita

ANNEMIE (22 tahun), adalah warga negara Belanda, mahasiswi Universiteit van Amsterdam, jurusan ilmu sejarah, seni dan budaya. Ia datang ke Indonesia (Kisaran, Tanjung Balai Asahan, Batubara) dalam rangka studi/observasi melengkapi penyusunan tesis program S2 untuk mendapat gelar Magister Humaniora.


ANNEMIE tertarik dengan deskripsi mengenai budaya suku bangsa di luar Eropa yang masih tradisional dan merupakan sisa kebudayaan kuno. Ia ingin meneliti berbagai adat-istiadat, sistem kepercayaan, struktur sosial dan kesenian dari berbagai suku yang tersebar di wilayah nusantara, dari masa sebelum dan sesudah penjajahan Belanda. Tentang kolonialisme bangsa Eropa atas negara–negara di Afrika, dan Asia dalam usaha mencari sumber daya alam baru, khususnya rempah-rempah yang sangat dibutuhkan masyarakat Eropa pada saat itu.

Friday, 10 April 2015

Melalui Film Kenalkan “Budaya Asahan” pada Dunia




Nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini merupakan warisan budaya sangat kaya. Ia merupakan modal dasar dalam pembentukan jatidiri dan karakter bangsa. “Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut dengan cara menghidupkan kembali dan menempatkannya dalam konteks kekinian,” kata aktor senior dan budayawan Pong Hardjatmo, pada acara ‘Bincang Kearifan Budaya Asahan’, yang berlangsung di Rumah Seni Pemersatu Jiwa Humaniora Foundation, Kranggan Permai, Cibubur Jakarta, Kamis (09/04/2015).

Nilai-nilai tersebut, kata Pong, dapat dilihat dari tradisi berbagai suku bangsa di Indonesia, seperti budaya gotong-royong, budaya disiplin, budaya tepat waktu, rela berkorban, saling menghormati dan toleransi. “Kekayaan kultural ini harus menemukan bentuknya yang sesuai dengan kekinian. Sebab bila tidak ia hanya akan menjadi cerita masa lalu,”  tukasnya.


‘Bincang Kearifan Budaya Asahan’ ini menjadi salah satu rangkaian acara dalam upaya pelestarian budaya daerah; ‘Kenalkan Budaya Asahan Pada Dunia’ yang digagas Komunitas Seni Pemersatu Jiwa dan Humaniora Foundation. Selain Pong Hardjatmo, hadir narasumber lain, diantaranya, aktor dan aktris senior, Dorman Borisman dan Yati Surachman, serta aktor, seniman dan budayawan asli putra daerah Asahan, Eddie Karsito.

Dorman Borisman dalam paparannya mengatakan, tentang pentingnya peran budaya dalam membangun sebuah negara. Dalam konteks budaya, kata Dorman, Asahan adalah wilayah yang sangat akomodatif dan terbuka. Selama berabad-abad wilayah ini menjadi destinasi bangsa-bangsa Eropa (Belanda) dan Asia (China, India), terutama Asia Tenggara yang menciptakan bentuk budaya baru (akulturasi).

“Dari sini terjadi dinamika hubungan antar etnik, antar bangsa, antar budaya, antar agama, meninggalkan jejak-jejak positif yang berpengaruh terhadap karakteristik bangsa. Misalnya pemahaman terhadap rasa persatuan, saling pengertian, toleransi, empati, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.  

Film Sebagai Penyangga Budaya
Keragaman dan keunikan budaya Asahan inilah kemudian mendorong para seniman Asahan yang tergabung di Seni Pemersatu Jiwa untuk memproduksi film layar lebar. “Bincang kearifan budaya Asahan’ ini menjadi titik awal rencana pembuatan film budaya ‘Annemie in Buitengewesten’ yang shootingnya akan dilakukan di Asahan bulan Juli 2015 mendatang. Dibintangi para artis nasional, dan internasional populer, serta ratusan pemain lokal; Kisaran, Tanjung Balai, Batubara, Labuhan Batu, dan Medan Sumatera Utara,” terang Eddie Karsito, yang bertindak sebagai sutradara dan penulis cerita.

Bupati Asahan, Drs. Taufan Gama Simatupang, M.AP, dalam sambutannya secara tertulis menyampaikan, bahwa media film dapat menjadi salah satu penyangga budaya. Media komunikasi menarik dan efektif untuk menyampaikan segala bentuk pesan. Dengan pembuatan film yang menggambarkan keindahan alam dan kebudayaan setempat hal ini akan menambah minat masyarakat luar untuk datang berkunjung ke Asahan. “Saya menyambut baik rencana itu. Pembuatan film itu dapat lebih memperkenalkan keindahan alam dan keanekaragaman budaya di Asahan. Sehingga menambah ketertarikan masyarakat luar untuk datang berkunjung, yang pada akhirnya akan menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat di Asahan,” ujar Taufan Gama./***

Jakarta, 10 April 2015





Wednesday, 25 March 2015

Sisworo Gautama Putra ( Sutradara Kelahiran Kisaran )

from: http://id.wikipedia.org/wiki/Sisworo_Gautama_Putra

Sisworo Gautama
Nama lahir
Sisworo Gautama Putera
Nama lain
Sisworo Gautama
Lahir
Meninggal
Pekerjaan
Tahun aktif
1962 - 1993
Agama
 

Sisworo Gautama Putra (lahir di Kisaran, 26 Mei 1938 – meninggal 5 Januari 1993 pada umur 54 tahun) adalah sutradara terkenal Indonesia yang selama masa keemasan perfilman Indonesia tahun 1970-an hingga awal 1990-an acapkali menyutradarai film-film horor. Filmnya yang populer ialah "Sundel Bolong", "Bangunnya Nyi Roro Kidul", "Telaga Angker", dan "Nyi Ageng Ratu Pemikat" yang dibintangi aktris Suzanna di era tahun 1980-an.
Sisworo cukup dikenal oleh para penonton yang menyukai tema filmnya, dan pemainnya kebanyakan dimainkan oleh artis laga seperti Ratno Timoer, Barry Prima, dan George Rudy. Film-film horor awalnya yang unik pada masanya telah banyak dikenal di dunia internasional, di antaranya Primitif (1978) yang kontroversial karena adalah film Indonesia pertama yang mengetengahkan kanibalisme sebagai unsur cerita utama, dan Pengabdi Setan (1980) yang telah beredar secara internasional mulai dari Jepang hingga ke Eropa dan Amerika.

Latar belakang

Sisworo dilatih sebagai sutradara pada tahun 1961. Karier sineasnya dimulai tahun 1962 dengan bekerja di studio Gema Masa Film. Dia bekerja sebagai penulis skenario lanjutan, manajer unit, manajer produksi dan kemudian asisten sutradara. Debut sutradaranya dimulai pada tahun 1972 dengan film "Dendam si Anak Haram", yang skenarionya juga ditulis olehnya. Dia mengarahkan banyak film horor laris, misalnya: "Nyi Blorong" (1982). Dia wafat pada tanggal 5 Januari 1993. Film terakhirnya, Misteri di Malam Pengantin dirilis di bioskop setelah kematiannya.

Filmografi

Tahun
Judul film
Diakui sebagai
Keterangan
1962
Ya
1963
Ya
1964
Ya
1965
Ya
1970
Ya
1971
1972
Ya
1972
Ya
Ya
Ya
1973
Ya
Ya
1976
Ya
Ya
1977
Ya
Ya
1978
Ya
1980
Ya
Ya
Ya
1981
Ya
Ya
Ya
1982
Ya
1983
Ya
Ya
1984
Ya
Ya
1985
Ya
Ya
1986
Ya
Ya
1988
Ya
1988
Ya
1989
Wanita Harimau / Santet II
Ya
Ya
1990
Ya
1991
Ya
1992
Ya
1993
Ya
 

Film yang disutradarai Sisworo Gautama
Awal karir
1970-an
Dendam si Anak Haram (1972) · Lima Jahanam (1972) · Marabunta (1973) · Manusia Terakhir (1973) · Rajawali Sakti (1976) · Cinta Kasih Mama (1976) · Papa (1977) · Dua Pendekar Pembelah Langit (1977) · Primitif (1978)
1980-an
1990-an