sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sindoesoedarsono_Soedjojono
Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara
Mei 1913 –
25 Maret,
Jakarta,
1985)
merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno
Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern.
Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama
Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan
konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya
dengan “S. Sudjojono”.
Soedjojono terlahir Soedjiojono lahir dari keluarga transmigran asal
Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran,
Sumatera Utara,
beristrikan Marijem, seorang buruh perkebunan. Ia lalu dijadikan anak
angkat oleh seorang guru HIS, Joedhokoesoemo. Oleh bapak angkat inilah,
Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama
Batavia) pada
1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di
Cimahi, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di
Yogyakarta.
Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis
kepada RM Pirngadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia
belajar kepada pelukis
Jepang, Chioyi Yazaki.Ia sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh
Ki Hajar Dewantara itu. Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi,
Banyuwangi, tahun 1931.Namun
ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut
pameran bersama pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Inilah
awal namanya dikenal sebagai pelukis. Pada tahun itu juga ia menjadi
pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh karena
itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri
Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara
Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni
rupa pertama di Indonesia. Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan
sapuan bagai dituang begitu saja ke
kanvas. Obyek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya.Sebagai seorang kritikus seni rupa, ia dianggap memiliki jiwa nasionalis. Djon sering mengecam
Basoeki Abdoellah
sebagai tidak nasionalistis karena hanya melukis keindahan Indonesia
sekedar untuk memenuhi selera pasar turis. Dua pelukis ini pun kemudian
dianggap sebagai musuh bebuyutan. Sengketa ini mencair ketika
Ciputra, pengusaha penyuka seni rupa, mempertemukan Djon, Basoeki Abdoellah, dan
Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Pada masa
Orde Lama, ia pernah ikut dalam
Lekra dan bahkan
Partai Komunis Indonesia.
Ia sempat menjadi wakil partai di parlemen. Namun, pada 1957, ia
dipecat dari partai dengan alasan resmi pelanggaran etik karena
ketidaksetiaan kepada keluarga/istri. Tahun 1959 setelah didesak
tuntutan Mia Bustam, istri pertamanya, Sudjojono resmi bercerai dari Ibu
yang memberi delapan anak untuk pasangan ini, setelah secara
sembunyi-sembunyi mencintai Rosalina Poppeck - seorang sekretaris dan
penyanyi - selama beberapa tahun, yang kemudian dinikahinya sekaligus
mengganti nama istri barunya menjadi Rose Pandanwang
Pada
tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring
Jakarya, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis, Pada
tahun itu juga ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar
Indonesia (Persagi). Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak
awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai
sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga
dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.
Lukisanya
memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan
sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas, pada periode sebelum
kemerdekaan, karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang semangat
perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun
setelah jaman kemerdekaan kemudian karya Lukisanya banyak bertema
tentang pemandangan Alam, Bunga, aktifitas kehidupan masayarakat, dan
cerita budaya.
"Ngaso" by S. Sudjojono, Size: 140cm x 100 cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1964
*) Auction: Christie's Hongkong
"Pertemuan di Tjikampek yang Bersedjarah" by S. Sudjojono, Size: 104cm x 152 cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1964
*) Auction: Christie's Hongkong
"Kami" by S.-Sudjojono, Auction by Sotheby's Hongkong
"Pelabuhan Tanjung Priok" by S.Sudjojono, Auction by Sotheby's Hongkong
"Didalam kampung" by S.Sudjojono, Medium: Oil on canvas, Size: 130cm x 150,5cm, Year: 1950
*) Koleksi Bung Karno
"Didepan kelambu terbuka" by S.Sudjojono, Medium: Oil on canvas, Size: 86cm x 66cm
*) Koleksi Bung Karno
"Kawan-kawan revolusi" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 95cm x 149cm
*) Koleksi Bung Karno
"Mengungsi" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 104cm x 144cm, Year: 1947
*) Koleksi Bung Karno
"Potret Seorang Tetangga" by S.Sudjojono, Medium: Oil on Canvas, Size: 120,5cm x 151cm, Year: 1950
*) Koleksi Bung Karno
"Seko (perintis gerilya)" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 173,5cm x 194cm
*) Koleksi Bung Karno
"Figur lelaki" by S.Sudjojono, Size: 55cm x 45cm, Medium: oil on canvas, Year: 1976
*) Auction: Masterpiece
"Still life" by S.Sudjojono, Medium: oil on board, Size: 74,5cm x 54,5cm, Year: 1963
*) Auction: Masterpiece