Showing posts with label Seni dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni dan Budaya. Show all posts

Sunday, 7 February 2016

Istana Niat Lima Laras ( Saksi Sejarah Yang Terabaikan )


Inilah Istana Niat Lima Laras. Sebuah situs peninggalan sejarah masyarakat Melayu pesisir. Istana ini lebih dikenal dengan nama Lima Laras. Meskipun namanya tidak sebesar dan tenar dari Istana Maimun di Medan, namun Istana yang dibangun pada tahun 1907 dan selesai 1912 ini, menyimpan kisah perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia, dimasa penjajahan Belanda. Terutama perjuangan masyarakat Melayu ketika itu.Mengunjungi dan melihat langsung kondisi Istana Lima Laras di Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara seakan berada di masa lalu. Tak heran Istana penuh nostalgia dan kenangan, ini masih dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun manca negara, ketika memasuki hari libur dan hari-hari besar. Menuju Istana Lima Laras butuh waktu lebih kurang 3 jam dari pusat Kota Medan, atau lebih kurang 120 km melalui jalan darat Medan menuju Kabupaten Batubara. Sejarah dan awal berdirinya Istana Lima Laras inipun semakin seru untuk ditelusuri.Sesuai dengan namanya, Istana Lima Laras berada di Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. Walaupun sedikit terlihat usang, namun Istana Lima Laras masih berdiri kokoh, ditengah keberagaman dan kemajuan zaman saat ini. Bahkan umur Istana inipun telah mendekati 1 abad. Namun sayang istana yang sempat megah disepanjang abad 20 ini, kurang mendapat perhatian serius sebagai situs peninggalan sejarah budaya Melayu dan bangsa Indonesia .
Warna hijau dan sedikit kelihatan kusam pada bangunan Istana Lima Laras, seolah menjadi icon kemegahan Istana. Namun sayang itu hanya sebuah kiasan belaka. Bila kita memasuki bahagian dalam Istana Lima Laras ini, kondisinya sangat memprihatinkan. Lantai dan dinding bangunan Istana masih berbahan kayu, dan hampir sebahagian sudah lapuk tanpa perawatan bahkan rusak termakan usia. Padahal sesungguhnya bangunan Istana ini, sangat  mengagumkan. Hampir keseluruhan bahan bangunan Istana, menggunakan kayu ukiran bernuansa Melayu. Keseluruhan dinding, jendela, dan pintu, bentuknya sangat unik dan menakjubkan karena penuh dengan lukisan dan ukiran yang cantik.

Wednesday, 27 January 2016

Tari Serampang 12 Sergai Raih Rekor MURI

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Ir H Tengku Erry Nuradi MSi mengapresiasikan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang telah melaksanakan pagelaran Tari Serampang 12 yang diikuti 4.320 siswa-siswi se-Sergai. Tarian Serampang 12 yang dilaksanakan Sergai memecahkan Rekor MURI yang sebelumnya diraih Kota Medan tahun 2009.
"Kita beri apresiasi yang tinggi kepada Pemerintàh Kabupaten serdang Bedagai dan seluruh stakeholder yang telah menyelenggarakan pagelaran Tari Serampang 12 dengan penari terbanyak dan telh memecahkan Rekor MURIi," kata Erry Nuradi saat menghadiri acara Pagelaran Tari Serampang 12 dalam rangka HUT Kabupaten Serdang Bedagai ke 12, Rabu (6/01), di Lapangan Sepakbola Batang Terap Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.
Turut hadir pada acara tersebut Ketua dan anggota DPRD Kabupaten Serdang Bedagai dan unsur FKPD Kabupaten serdang bedagai, Kepala Dinas Pariwisata Sumut Elisa Marbun, para kepala SKPD kabupaten Sedang Bedagai, tokoh masyarakat Ir Soekirman, koordinator Sumut USAID Prioritas dan anggota, tim penilai Muri Osman Semesta Susilo dan para siswa-siswi dari 17 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai.
Menurut Erry, kegiatan pagelaran Tari Serampang 12 dalam rangka HUT ke 12 Kabupaten Serdang Bedagai bukan hanya sekedar pertunjukkan seni tari dan budaya, juga meriah Rekor MURI, melainkan memiliki makna luas untuk menanamkan rasa kecintaan masyarakat khususnya generasi muda terhadap budaya bangsa yang maha karya sekaligus dapat menumbuhkan semangat melestarikan dan membangun budaya bangsa sebagai bangsa yang berkarakter.
Pada kesempatan itu, Erry menghimbau kepada seluruh masyarakat Serdang Bedagai, untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena saat ini masyarakat dihadapakan pada era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), agar bisa bersaing dengan negara lain.
"Tentunya masyarakat harus bsrkualitas dan innovatif. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di negeri sendiri, melainkan harus bisa menjadi pemain," ujar Erry.
Erry juga berpesan kepada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai untuk terus melestarikan adat budaya lokal yang merupakan warisan kekayaan bangsa. Dia berpesan, agar pada hari Jumat, para siswa-siswi mamakai pakaian tradisional Sergai, yakni teluk belanga, sebagai bentuk kecintaan umtuk melestarikan adat budaya lokal.
Sementara itu, Pj Bupati Serdang Bedagai, Ir Alwin Sitorus MSi mengajak seluruh masyarakat, agar pagelaran tari serampang 12 yang dilaksanakan tahun 2016 ini sebagai momentum terbaik pembinaan seni budaya dan pendidikan yang dapat menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap Kabupaten Sergai serta Tari Serampang 12.
"Melalui pentas ini diharapkan kita akan semakin mengetahui sekaligus memahami ragam budaya Sergai terkhusus Tari Serampang 12 yang diciptakan asli putra Serdang Bedagai yang telah meluas ke seluruh wilayah dan telah menjadi warisan budaya nasional," sebutnya.
http://www.ceritamedan.com/2016/01/tari-serampang-12-sergai-raih-rekor-muri.html

Wednesday, 6 January 2016

FlashBack Kebahagiaan yang hilang (melalui permainan anak)

Mau tidak mau,suka tidak suka dengan semakin berkembangnya teknologi yang begitu pesat hingga merambah wilayah daerah/pedesaan, semakin menjadikan alasan sebuah kepraktisan salah satu sebab mengapa banyak anak2 yang enggan melakukan permainan tradisional. Dengan ketergantungan mereka akan permainan2 yg lebih modern & berteknologi, seorang anak berpikir tanpa perlu ketergantungan dengan orang lain. Maksudnya mereka bisa bermain sendiri tanpa harus mencari teman seperti halnya permainan tradisional yang membutuhkan beberapa pemain (2 atau lebih pemain).
Sepintas memang terlihat tdk begitu mengkhawatirkan dan para orang tua juga merasa lebih senang karena kalo anak2 mereka tidak bermain yang berbahaya atau membuat baju jadi kotor. Padahal dengan membiarkan anak2 tenggelam dalam permainan yang berbau teknologi tsb akan merusak mental&perkembangan jiwa mereka. Sehingga akan tumbuh menjadi seorang yang egois serta individualis dan enggan bekerja keras karena sudah terpola berpikir praktis.
Kenapa?karena dalam permainan tradisional secara tidak langsung akan mengajari mereka untuk lebih kreatif, hidup bersosialisasi, kekompakan, dan melatih fisik (seperti halnya berolahraga). Ada berbagai macam permainan tradisional diantaranya:

Layangan

Permainan layangan ini sangat begitu mengasyikkan, karena kita dituntut supaya gigih agar layangan tersebut bisa naik tinggi ke langit. Saya bukan saja senang menaikkan layangan tersebut ke langit tetapi juga pandai untuk membuatnya. Menaikkan layangan ini juga membutuhkan sedikit teknik, agar layangan itu dapat dikontral naik ke atas dan menghindari menukit ke bawah.

Layangan ini juga membutuhkan tali yang sesuai dengan daya tegangannya, agar benang tidak terlalu kendor ataupun putus saat sudah melayang ke atas. Benang yang terlalu kendor mngakibatkan menurunnya ketinggian layangan, sedangkan benang yang putus disebakan karena benang tersebut terlalu tipis sehingga tidak mampu menahan tegangan saat angin berhembus kencang ataupun saat benang bergesekkan dengan benang layangan orang lain. Hal yang menyebalkan, apabila layangan tidak bisa naik karena mesti di atur dulu regangan di “taraju”  itu bahasa di daerah Minang kampung saya. Atau saat layangan naik tapi malah nyangkut di pohon ataupun di tiang listrik, lebih parahnya saat layangan itu putus, kalau mau kembali layangan mesti jadi pelari marathon yang bisa juara satu ditambah lagi pandai panjat tebing kalau layangannya putus nyangkut di pohon atau di atas rumah orang. Itulah sedikit cerita saat aku main layangan dulu. 

Sunday, 27 September 2015

APA KABAR BUDAYA NEGERI ?

Banyak generasi penerus bangsa yang acuh tak acuh terhadap bangsanya sendiri. Tidak percaya ? Coba tanya remaja sekarang, siapa itu wonder girls ? siapa itu super junior ? sebagian besar dari mereka pasti tahu jawabannya. Tapi bagaimana jika pertanyaan yang diajukan adalah, dari mana asal Tarian Gubang? Apa jawabannya?

Saya coba menanyakan hal ini langsung kepada seorang siswa sekolah menengah atas. Ketika diajukan pertanyaan pertama tentang wonder girls tadi, sang remaja putri ini dengan lugas menjawab, "Wonder Girls itu girls band gitu loh yang dari Korea yang cantik-cantik sama sexy-sexy."

Lalu tibalah pada pertanyaan kedua. Mendengar pertanyaan tersebut saya ajukan, remaja cantik ini langsung menatap saya heran sambil mengernyitkan dahinya. "Gubang?, emang ada ya bang nama tarian kayak gitu?"

"Ada dong!" jawab saya. "Gubang itu tarian daerah yang asalnya dari Asahan "Oh.." katanya sambil lalu.

Melihat kenyataan di atas. Tidak dapat dipungkiri, posisi kebudayaan negeri sendiri mulai tergeser dengan budaya dari negeri orang. Tidak dapat dipungkiri, semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu tujuan pun mulai terkikis dari hati masyarakat Indonesia yang pada akhirnya merubah keadaan sosial masyarakat itu sendiri.

Bagaimana itu bisa terjadi ?

Banyak faktor yang menyebabkan perubahan sosial di dalam masyarakat. Soejono Soekanto menyebutkan 8 faktor yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Factor tersebut antara lain mencakup sistem pendidikan yang semakin maju, sikap menghargai hasil karya orang lain, sistem yang transparan di masyarakat, toleransi terhadap perbuatan menyimpang, ketidak puasan masyarakat terhadap bidang - bidang kehidupan yang akhirnya menimbulkan kebosanan, masyarakat yang heterogen dan anonym, hingga kepada semakin mudahnya kontak dengan masyarakat luar yang akhirnya menyebabkan terjadinya pencampuran budaya.

Dewasa ini, Hal - hal baru selalu terlihat lebih menarik dibandingkan dengan sesuatu yang memang sudah lama ada. Istilahnya, kalau sudah lama ada itu sudah basi! Sudah tidak penting untuk dibahas. Kebalikannya, kita sebagai anak muda itu harus selalu up to date terhadap hal-hal baru. Justru kalau kita tidak tahu trend terbaru, kita bisa dibilang kampungan. Nggak mengikuti perkembangan jaman.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya bagi saya adalah perkembangan jaman seperti apa yang seharusnya diikuti oleh generasi muda kita?

Tuesday, 14 April 2015

Annemie In Buitengewesten FIlm By Eddie Karsito

Film By Eddie Karsito


“Wij nog steeds hebben familie hier, maar weet niet de exacte,” kata Annemie, gadis belia nan cantik asal Belanda. Ia mengaku punya keluarga di Kisaran Asahan Sumatera Utara, tetapi tak tahu persisnya.

“Ik kwam hier uitvoering van onze voorouders lijk as te worden begraven met haar dochter in de Buiten Gewesten,” Annemie menjelaskan, sambil menyerahkan dua kotak abu jenazah leluhurnya Dirck-Margreet, agar dimakamkan disamping makam putrinya Arabella Van Dirck yang telah lebih dulu meninggal sebelum kepulangannya ke Belanda di tahun 1933.

 “Annemie in Buiten Gewesten” adalah potret cerita silam, kini dan esok, yang menyoal “Toean Keboen”  dan “Koeli Kontrak” di era kolonial Belanda. Tentang manusia Jawa, yang terdorong menjadi buruh perkebunan di Sumatera Timur. Melahirkan peradaban baru (akulturasi budaya) menjadi ”Jawa Deli” atau ”Pujakesuma” (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Tentang cinta terlarang sang Noni, anak “Toean Keboen” dengan pemuda Jawa tampan, pemain Sandiwara tradisi (Ludruk), di Keboen Goerah Batoe Asahan.

Tentang indahnya destinasi wisata Arung Jeram Sungai Asahan, yang banyak diminati rafter profesional internasional. Arung Jeram Sungai Asahan menempati posisi ketiga tersulit di dunia setelah sungai zambesi di Afrika dan sungai Colorado di Amerika.





Ringkasan Cerita

ANNEMIE (22 tahun), adalah warga negara Belanda, mahasiswi Universiteit van Amsterdam, jurusan ilmu sejarah, seni dan budaya. Ia datang ke Indonesia (Kisaran, Tanjung Balai Asahan, Batubara) dalam rangka studi/observasi melengkapi penyusunan tesis program S2 untuk mendapat gelar Magister Humaniora.


ANNEMIE tertarik dengan deskripsi mengenai budaya suku bangsa di luar Eropa yang masih tradisional dan merupakan sisa kebudayaan kuno. Ia ingin meneliti berbagai adat-istiadat, sistem kepercayaan, struktur sosial dan kesenian dari berbagai suku yang tersebar di wilayah nusantara, dari masa sebelum dan sesudah penjajahan Belanda. Tentang kolonialisme bangsa Eropa atas negara–negara di Afrika, dan Asia dalam usaha mencari sumber daya alam baru, khususnya rempah-rempah yang sangat dibutuhkan masyarakat Eropa pada saat itu.

MARWOTO : Seni Tradisi Tidak Berdiri Sendiri



Aktor komedian Marwoto, menganalogikan seni tradisi bagai ulir (spiral ring binder) yang harus diurut dan diruntut. “Seperti ulir kawat, seni tradisi itu harus diurut dengan telaten (sabar) dari atas ke bawah, melingkar-lingkar, tanpa terputus,” ungkapnya kepada galamedianews.com, di sela-sela shooting film layar lebar ‘Lamaran’ di kawasan Tanjung Barat Jakarta Selatan, Minggu (12/04/2015).

Seni tradisi katanya, merupakan konstruksi kreatif yang melibatkan banyak hal. “Tidak berdiri sendiri. Ada banyak faktor yang saling terkait. Yaitu sinergi antara itikad para seniman dalam mempertahankan kemurnian seni tradisi, kemudian regulasi dari pemerintah, serta respon tren masyarakat sekarang,” papar komedian yang popularitasnya sempat menanjak ketika sering tampil di acara komedi Ketoprak Humor (RCTI) ini.

Jika seni tradisi ingin tetap eksis, kata Marwoto, harus ada upaya inovatif  yang memberi keseimbangan bagi tumbuh kembangnya seni tradisi. Budaya manusia, kata dia, bukan sesuatu yang stagnan (berhenti). Ia berkembang sesuai tuntutan zaman yang didasarkan atas kebutuhan hidup manusia.

“Jadi memang perlu ada kompromi. Semacam kolaborasi antara seni tradisi dan seni masa kini, seni modern. Masing-masing memberi kontribusi. Sementara nilai-nilai seni tradisi tetap bisa dipertahankan, dengan kemasan gaya hidup sekarang,” kata seniman yang pernah membintangi film Soegija (2012), dan film Ambilkan Bulan (2012) ini.

Kesenian tradisi berbasis budaya daerah dengan kearifan lokal, seperti wayang, ludruk, ketoprak, lenong, sandiwara bangsawan, musik karawitan dan kesenian lainnya, kini semakin tidak populis dan ditinggalkan. “Padahal kesenian tradisi pada umumnya tidak semata-mata berkesenian. Tapi ada nilai-nilai yang dikedepankan. Seperti rasa kebersamaan, persaudaraan, gotong-royong, solidaritas dan sportivitas, rasa saling menghargai dan menghormati. Kalau sekarang berkesenian sebatas kerja, sekedar profesi,” tukas aktor panggung Ketoprak dan Ludruk ini.

Di film ‘Lamaran’  bergenre komedi yang disutradarai Monty Tiwa ini, Marwoto berperan sebagai Basuki, seorang politisi yang tersandung masalah korupsi. Selain Marwoto film ini dibintangi Acha Septriasa, Tora Sudiro, Eddie Karsito, Dwi Sasono, Cok Simbara, Mak Gondut, Restu Sinaga, Project Pop, Wike Widowati, Ari Kriting, Reza Nangin, Sacha Stevensoon, Mongol, dan para artis lainnya./***

Jakarta, 14 April 2015

Thursday, 26 March 2015

Nurhabibi, S.sos ( Lembaga Seni Tiara Intan Kab. Asahan )



Ibu Nurhabibi, S.Sos Lahir di Bandar Selamet, Kab. Asahan  pada tanggal 6 april 1969. Beliau adalah anak bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan Alm. H. Arifin Saragih dan Hj. Arfiah Damanik. Darah seni mengalir dengan kental dari kedua orang tuanya yang merupakan aktivis seni di Kab. Asahan dari tahun 50-an. Mulai dari anak-anak ia telah diperkenalkan dengan dunia seni khususnya tarian tradisional oleh kedua orang tuanya dan telah melakukan pertunjukan diantaranya di Palembang, Sumatera Selatan. Uniknya dari kecil beliau tidak pernah bersekolah di sekolah seni, beliau hanya belajar secara otodidak dari orang tuanya. Rasa cintanya pada seni dan budaya juga ditularkan pada anak-anaknya. Saat ini Ibu Nurhabibi memiliki 3 orang anak, 2 diantaranya telah beranjak dewasa dan ikut juga berkecimpung di dunia seni. Dan anak yang sulung kini menuntut ilmu di Universitas Negeri Medan fakultas Seni dan Budaya. Saat ini beliau mengajar di beberapa sekolah di Kisaran kab. Asahan dan juga pernah mengajar di Pemda Kab. Labuhan Batu Utara khusus seni tari. Juga pernah menjadi pelatih tari di lingkungan Pemkab Asahan

Profil Akademik
-          1981 Menamatkan Sekolah Dasar di SD. Negeri 010084 Kisaran
-          1984 Menamatkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Kisaran
-          1987 Menamatkan Sekolah Menengah Atas di SMEA Negeri Kisaran
-          1991 Meraih Gelar Sarjana Sosial di Universitas Pembangunan Masyarakat Indonesia  ( UPMI ) di Medan


Awal sejarah perjalanan Lembaga Seni Tiara Intan bermula dari Bina Citra Asahan yang didirikan pada 12 April tahun 1996 , berubah nama menjadi Sanggar tari Tiara Intan 12 April Tahun 2005, sesuai dengan perkembangannya Sanggar Tari Tiara Intan berubah menjadi Lembaga Seni Tiara Intan tanggal 12 April 2009



Lembaga Seni tiara intan didirikan oleh ibu Nurhabibi,S.Sos dengan dukungan penuh sang suami bapak Khairul Saleh S.Sos pada tanggal 12 april 2009 di Jl.Sisingamagaraja no. 385 Kisaran. Lembaga Seni ini adalah Lembaga Seni yang pertama kali terbentuk di Kab. Asahan yang bergerak di bidang seni tari tradisional dan masih eksis sampai sekarang. Lembaga Seni Tiara Intan memiliki Akte Notaris No.8 pada tanggal 05 Desember 2009 yang disahkan oleh Notaris Timbanglaut, SH, M.Kn.  Pada saat ini Lembaga Seni Tari Tiara Intan telah pindah ke alamat Jl. Sei Piasa No.6 Kisaran. Sanggar ini awalnya hanya memiliki 12 orang murid yang terdiri dari 10 orang  putri dan 2 orang putra yang berasal dari beberapa sekolah di Kab. Asahan. Dari awal berdirinya, Lembaga Seni Tari Tiara Intan  hanya mengandalkan biaya sendiri dan iuran para anggota untuk menghidupi sanggar. Jadi Lembaga Seni Tari Tiara Intan adalah sanggar mandiri dari dulu hingga sekarang.
                Saat awal-awal berdirinya Lembaga Seni Tari Tiara Intan hanya menggunakan fasilitas seadanya, namun seiring berjalalannya waktu dan semakin meningkatnya jumlah anggota dan diikuti dengan semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan nilai-nilai kesenian budaya dan pentingnya keberadaan suatu sanggar yang mewadahi keinginan berekspresi mereka, maka Lembaga Seni Tari Tiara Intan  pun dengan senang hati menampung aspirasi siswanya dan Alhamdulillah sekarang fasilitas Lembaga Seni Tari Tiara Intan  intan sudah memadai.
                Pada saat ini jumlah siswa-siswi yang dilatih di Lembaga Seni Tari Tiara Intan adalah 71 orang yang terdiri dari 38 siswa anak anak SD dan 33 orang siswa remaja/dewasa per Januari 2014. Jadwal latihan wajib Lembaga Seni Tari Tiara Intan senin sore dan jum’at sore diperuntukkan bagi siswa anak – anak sedangkan bagi remaja/dewasa pada malam rabu dan malam sabtu. 






Saat ini siswa dan siswi Lembaga Seni Tari Tiara Intan telah mengajar seni tari di berbagai sekolah di Kab. Asahan dan di luar daerah. Dengan keahlian yang telah di dapat dari sanggar tari tiara intan diharapkan para siswanya dapat menyumbangkan keterampilanya dengan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat agar kebudayaan nasional dapat terpelihara dengan baik.
                Lembaga Seni Tari Tiara Intan juga banyak melakukan kerjasama dengan sanggar-sanggar tari yang lain yang ada di luar kab.Asahan khususnya medan yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan saling bertukar informasi seputar seni dan budaya. Lembaga Seni Tari Tiara Intan tidak hanya mengajarkan kebudayan tarian tradisional  setempat saja tapi juga mencakup tarian aceh, jawa, bali dan lain-lain, karena Lembaga Seni Tari Tiara Intan berfikiran bukan hanya kebudayaan daerah Asahan saja yang perlu dijaga tapi juga seluruh kebudayaan Indonesia.
Setiap siswa yang masuk ke Lembaga Seni Tari Tiara Intan maka terlebih dahulu akan diajarkan tarian wajib Sumatera Utara yang bertujuan agar mereka mengetahui budaya daerahnya terlebih dahulu sebelum mempelajari tarian dari daerah lain.

Tuesday, 24 March 2015

Eddie Karsito ( Dedikasi Untuk Tanah Kelahiran )


Biodata singkat
Nama Eddie Karsito
Lahir Kisaran, Asahan, Sumatera Utara, 24 Nopember 1961
Pendidikan Formal Pendidikan Guru Agama [PGA] Cokroaminoto di Kisaran Asahan Sumatera Utara
Pendidikan Non-Formal Insight Studies and Development Institute Yogyakarta
Profesi Wartawan, aktor, pengajar, pekerja sosial, dan Ketua Yayasan Humaniora, Bekasi

Eddie Karsito (lahir di Kisaran, Asahan, Sumatera Utara, Indonesia, 24 November 1961; umur 53 tahun) adalah wartawan hiburan media terbitan Bandung yang juga merambah dunia film dan sinetron. Meski telah lama berkecimpung di dunia sinetron dan film, namanya mulai dikenal saat memerankan tokoh "Lamhot Simamora" dalam film yang mengundang kontroversi, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007). Tetapi film ini pula yang mengantarnya mendapat penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji dalam Festival Film Bandung (FFB) 2008. Puluhan judul film layar lebar dan sinetron telah dibintangi aktor yang juga pendiri Humaniora Foundation ini. Beberapa filmnya yang relatif menonjol adalah film layar lebar Mengejar Mas-Mas (2007), dan Film Televisi (FTV) Ujang Pantry yang ditayangkan di ANTV (2006).

Juru parkir, pelayan restoran, kuli bangunan, sopir angkutan umum, dan pembantu rumahtangga adalah profesi yang sempat mewarnai kehidupan Eddie Karsito sebelum menjadi aktor film seperti sekarang ini. Lelaki yang berprofesi juga sebagai wartawan ini pernah menjalani hidup keras di Jakarta, tapi akhirnya membuahkan hasil, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang, khususnya bagi kaum marjinal.
Perjalanan hidup Eddie hingga menjadi seperti sekarang ini melalui proses panjang dan berliku. Eddie terlahir dari keluarga dari asal Magetan, Jawa Timur, yang merantau ke Asahan, Sumatera Utara. Di Asahan inilah, Eddie lahir dan dibesarkan. Sejak kecil, Eddie sudah mencintai dunia teater. Ia mengaku belajar teater dari alam sekitarnya. Usia 10 tahun dia terbiasa berjalan kaki sejauh 16 km setiap hari dan keluar masuk hutan, juga sempat menjadi buruh di perkebunan karet dan kelapa sawit. Kemudian, semasa remaja, Eddie mengenyam Pendidikan Guru Agama [PGA], Cokroaminoto. Selepas pulang sekolah, Eddie pun bekerja paruh waktu mempromosikan film yang akan diputar di sebuah bioskop di daerahnya. “Saya suka seni sejak kecil. Orang kesenian tidak mengenal ruang dan waktu. Sampai ngobrol pun itu juga berkesenian. Allah mencintai keindahan dan Allah Sang Keindahan itu sendiri. Jadi masuk wilayah mana pun, saya tak lepas dari kesenian,” kata Eddie, saat ditemui di kediamannya di kawasan, Kranggan, Bekasi.
Untuk terus mengembangkan berkeseniannya, Eddie pun merantau ke Jakarta bersama teman-temannya. Di kota besar inilah Eddie ditempa kehidupan keras. Eddie berjuang banting tulang untuk mencukupi hidupnya. Juru parkir, pelayan restoran, kuli bangunan, supir angkutan umum, dan pembantu rumahtangga adalah beberapa profesi yang sudah dijalaninya agar bisa bertahan di Jakarta. Di kota inilah Eddie aktif berorganisasi, termasuk di organisasi Islam. Lantas, dia mencoba aktif di pers. Karier jurnalistiknya dimulai pada tahun 1988 sebagai reporter harian Jakarta. Kemudian, Eddie mengalami intensitas jurnalistik pers Islam di Bandung sebagai wartawan tabloid Salam dan Hikmah. Karena dua media Islam ini tak aktif lagi, Eddie pun dialihtugaskan sebagai wartawan hiburan di harian Gala, yang kini lebih dikenal dengan nama suratkabar Galamedia. Di suratkabar inilah Edi dipercaya sebagai wartawan hiburan.
Perpindahan dari media Islam ke media dengan bidang liputan hiburan, ternyata tak membuat Eddie rikuh. Dia mengaku tidak masalah ketika ditugaskan meliput berita hiburan. “Nggak ada masalah karena saya ingin menebar rahmat. Berpikir soal Islam saya agak ekstrim. Banyak orang yang mengaku Islam, tapi nggak islami. Jadi, menurut saya, lebih baik pada perilakunya, bukan pada simbol-simbol atau merk,” ujar Eddie lagi.


Monday, 16 March 2015

Sindoesoedarsono Soedjojono

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sindoesoedarsono_Soedjojono



Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara Mei 191325 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan “S. Sudjojono”.

Soedjojono terlahir Soedjiojono lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatera Utara, beristrikan Marijem, seorang buruh perkebunan. Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Joedhokoesoemo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada 1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Cimahi, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada RM Pirngadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia belajar kepada pelukis Jepang, Chioyi Yazaki.Ia sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu. Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931.Namun ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis. Pada tahun itu juga ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Obyek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya.Sebagai seorang kritikus seni rupa, ia dianggap memiliki jiwa nasionalis. Djon sering mengecam Basoeki Abdoellah sebagai tidak nasionalistis karena hanya melukis keindahan Indonesia sekedar untuk memenuhi selera pasar turis. Dua pelukis ini pun kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan. Sengketa ini mencair ketika Ciputra, pengusaha penyuka seni rupa, mempertemukan Djon, Basoeki Abdoellah, dan Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Pada masa Orde Lama, ia pernah ikut dalam Lekra dan bahkan Partai Komunis Indonesia. Ia sempat menjadi wakil partai di parlemen. Namun, pada 1957, ia dipecat dari partai dengan alasan resmi pelanggaran etik karena ketidaksetiaan kepada keluarga/istri. Tahun 1959 setelah didesak tuntutan Mia Bustam, istri pertamanya, Sudjojono resmi bercerai dari Ibu yang memberi delapan anak untuk pasangan ini, setelah secara sembunyi-sembunyi mencintai Rosalina Poppeck - seorang sekretaris dan penyanyi - selama beberapa tahun, yang kemudian dinikahinya sekaligus mengganti nama istri barunya menjadi Rose Pandanwang

Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis, Pada tahun itu juga ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Lukisanya memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas, pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan kemudian karya Lukisanya banyak bertema tentang pemandangan Alam, Bunga, aktifitas kehidupan masayarakat, dan cerita budaya.




"Ngaso" by S. Sudjojono, Size: 140cm x 100 cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1964
*) Auction: Christie's Hongkong

"Pertemuan di Tjikampek yang Bersedjarah" by S. Sudjojono, Size: 104cm x 152 cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1964
*) Auction: Christie's Hongkong

"Kami" by S.-Sudjojono, Auction by Sotheby's Hongkong

"Pelabuhan Tanjung Priok" by S.Sudjojono, Auction by Sotheby's Hongkong
"Didalam kampung" by S.Sudjojono, Medium: Oil on canvas, Size: 130cm x 150,5cm, Year: 1950
*) Koleksi Bung Karno

"Didepan kelambu terbuka" by S.Sudjojono, Medium: Oil on canvas, Size: 86cm x 66cm
*) Koleksi Bung Karno

"Kawan-kawan revolusi" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 95cm x 149cm
*) Koleksi Bung Karno

"Mengungsi" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 104cm x 144cm, Year: 1947
*) Koleksi Bung Karno

"Potret Seorang Tetangga" by S.Sudjojono, Medium: Oil on Canvas, Size: 120,5cm x 151cm, Year: 1950
*) Koleksi Bung Karno

"Seko (perintis gerilya)" by S.Sudjojono, Medium: oil on canvas, Size: 173,5cm x 194cm
*) Koleksi Bung Karno
"Figur lelaki" by S.Sudjojono, Size: 55cm x 45cm, Medium: oil on canvas, Year: 1976
*) Auction: Masterpiece

"Still life" by S.Sudjojono, Medium: oil on board, Size: 74,5cm x 54,5cm, Year: 1963
*) Auction: Masterpiece