Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Sunday, 20 December 2015

BOYBAND “LAKI” Spirit Estetis “Jangan Marah”

Agama dan seni memiliki bilik-bilik spiritual yang hampir sama. Keduanya merupakan sistem nilai dan sistem simbol, yang menuntut para penganut atau pelakunya untuk selalu menghidupi segala dimensinya. Sementara fitrah manusia memiliki potensi teologis (iman-keyakinan), berpikir (pengetahuan yang bersifat empiris) dan ber-olah rasa (naluri keindahan yang bersifat estetis). Ketiganya merupakan kesatuan integral untuk merengkuh manfaat (rahmatan lil’alamiin).
“Pemikiran inilah yang melatar belakangi proses kreatif kami dari Humaniora & Positif Art Management, yang melahirkan berbagai ekspresi dan kreativitas seni manfaat. Salah satunya melalui grup vokal pria (boyband) LAKI,” ungkap Sujana, Produser dari grup boyband anyar ini, kepada galamedianews.com, di markasnya, di Cibubur Jakarta, Jum’at (4/12/2015).
Grup vokal pria (boyband) “LAKI” memiliki filosofi makna, bahwa : LAKI itu pemimpin. LAKI itu kemuliaan, kewibawaan, harkat, dan martabat. LAKI itu tangguh. LAKI itu melindungi. LAKI itu memelihara. LAKI itu tanggung jawab. LAKI (baca juga lucky : beruntung). Sebab LAKI lebih baik dari yang lain.

Monday, 27 July 2015

JANGAN KALAH OLEH KEADAAN

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
Tidak ada perjalanan yang lurus dan mulus. Semua memiliki hambatan, rintangan, dan tantangan yang berbeda. Di samudera yang luas membentang, ombak dan badai siap menghempaskan dan menenggelamkan. Di daratan, kerikil-kerikil tajam, jalan berlumpur dan berlubang, hingga tebing dan jurang yang curam tersedia untuk menghambat perjalanan. Hingga nan jauh tinggi di udara, awan hitam nan tebal, kabut, hujan dan petir juga dapat menghentikan perjalanan panjang kita.
Namun demikian, perjalanan tak boleh berhenti dan harus terus dilanjutkan, karena ini bukanlah akhir dari perjalanan. Beginilah kehidupan, kita terus berpacu melawan dan mengalahkan setiap rintangan yang datang menghadang. Tak ada kata berhenti, sebab berhenti sama maknanya dengan menunggu dan menjemput kehancuran. Berhenti sama dengan mati.

Kisah Syekh Az-Zamakhsyari dan Semut
Syekh Az-Zamakhsyari adalah seorang ulama yang ahli dari banyak cabang ilmu pengetahuan agama dalam sejarah Islam. Namun beliau lebih terkenal sebagai ulama ahli gramatika bahasa arab (nahwu). Bagi Syeikh Az-Zamakhsyari, menjadi seorang yang menguasai ilmu bahasa merupakan prestasi dan keberhasilan yang luar biasa. Betapa tidak, sejak usia dini telah mempelajari ilmu nahwu, tetapi hingga dewasa beliau tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.
Bayangkan selama bertahun-tahun belajar, untuk membedakan antara subyek (fa’il) dan obyek (maf’ul bih) saja tidak bisa. Sementara teman-temannya telah mampu mengajar untuk adik-adik kelasnya. Kenyataan ini nyaris membuat az-Zamakhsyari putus asa. Ia merasa amat malu dengan usianya yang semakin tua tetapi tidak tahu apa-apa, apalagi dia harus duduk dan belajar dengan anak-anak yang jauh di bawah usianya.
Akhirnya, beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat belajarnya. Ketika beliau telah berjalan cukup jauh, beliau singgah di sebuah gubuk kosong. Ketika sedang beristirahat, beliau melihat seekor semut merah kecil, yang menggigit dan menarik sisa buah kurma yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya untuk dimasukkan ke sebuah lubang di tanah. Berkali-kali ia melakukannya, namun selalu gagal, sisa kurma itu selalu jatuh ke tanah. Az-Zamakhsyari terpaku dan merasa kagum dengan kelakuan semut yang memiliki keuletan yang luar biasa mengagumkan itu.
Setelah berkali-kali gagal, akhirnya semut itu berhasil juga membawa sisa kurma tersebut masuk ke dalam lubang. Saat itulah terbetik pikiran dalam benak az-Zamakhsyari, ”Seandainya aku melakukan seperti yang semut itu lakukan, niscaya aku akan berhasil.” Setelah mengucapkannya, lalu ia memutuskan kembali belajar dan membatalkan niatnya untuk berhenti. Hasilnya az-Zamakhsyari benar-benar berhasil meraih impian dan cita-citanya. Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya terukir tekad, semangat dan etos kerja. Karakter tersebut memang akan membuat orang tak mau menyerah. Bahkan seekor semutpun menghayati semangat ini, apalagi kita manusia.

Hamparan Bumi Masih Sangat Luas
Terkadang terpaan dan guncangan hidup membuat dunia seakan teramat sangat sempit. Langkah kaki begitu terbatas. Dalam pandangan kita, hanya ada satu pintu, di dalam ruang pengap tanpa cahaya. Dalam masa seperti inilah hanya dengan keimanan kita dapat mencari pintu-pintu lain untuk keluar dari kegelapan. Karena sejatinya dalam setiap masalah tentu terdapat banyak pintu untuk keluar. Karena kesulitan dan kemudahan selalu berjalan berdampingan.
Berhenti dalam sebuah kesusahan adalah jalan menuju kehancuran. Kita ddiciptakan bukan untuk menjadi manusia yang gagal. Karena itu kita harus terus melangkahkan kaki, menapaki setiap celah yang ada. Seperti air yang terus mengalir, mencari celah yang dapat dilewati, lalu diam menggenangi serta mengumpulkan kekuatan untuk merobohkan beton yang menghadang.

Sunday, 26 July 2015

KEAKTORAN & KEWARTAWANAN " Profesi Tiada Henti Mengaktualisasi Diri"

Eddie Karsito
BIODATA  PRIBADI

Nama Lengkap
EDDIE KARSITO
Tempat & Tanggal Lahir
Sei Silau - Kisaran Asahan, 24 November 1961
Profesi
WARTAWAN, AKTOR TEATER, FILM & SINETRON
Pendidikan Formal
Pendidikan Guru Agama (PGA) Cokroaminto
Kisaran Asahan Sumatera Utara
Pendidikan Non-formal

Insight Studies and Development Institute Yogyakarta


Eddie KarsitoAktor, sutradara, organisator, penulis, wartawan, guru, dosen, instruktur seni peran, motivator dan seabrek profesi. Aktif, kreatif, produktif, dan ‘an enterprising young man’  inilah predikat yang pas untuk pria kelahiran Kisaran Sumatera Utara, 24 November 1961 ini.

Di tengah pergulatannya sehari-hari sebagai jurnalis, kadang ada saja kawan yang menanyakan; kenapa tidak berhenti saja jadi wartawan, lalu secara total terjun di dunia seni peran. Pertanyaan tersebut dapat dimaklumi. Sebab selama ini Eddie dikenal oleh teman-temannya -- bukan saja sering bersama mereka menjalankan tugas-tugas jurnalistik (sebagai wartawan) -- melainkan kadangkala muncul di sejumlah tayangan sinetron dan film layar lebar.


Keaktorannya dibangun lewat tempa dan desak kehidupan. Mulai dari juru parkir, pedagang rokok, pelayan restoran, kuli bangunan, supir angkutan umum, supir pribadi, hingga pembantu rumah tangga. Sejak usia sepuluh tahun Eddie Karsito sudah ber ‘teater’ – melalui proses alami pergi dan pulang sekolah setiap hari dengan berjalan kaki sejauh 16 kilometer tanpa alas kaki. Bahkan tak jarang ia telanjang dada, menyibak embun pagi dan menyusuri hutan sabana.

Sebagai anak keluarga ‘perantau’ dari Jawa (Magetan Jawa Timur), Eddie sempat menikmati keluar masuk hutan menggarap ladang berpindah. Tinggal di tengah hutan tanpa tetangga bersama orangtuanya. Menjadi buruh perkebunan karet dan kelapa sawit, di Asahan Sumatera Utara. Oleh karena itu, tak heran jika pemahaman aktingnya pun terbentuk oleh alam (Teater Kehidupan).


Ketika masih menjadi pelajar di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Cokroaminoto di kota kelahirannya, Eddie bekerja paruh waktu menangani masalah promosi di sebuah bioskop, Ria Theatre. Setiap hari selepas sekolah tugasnya keliling kota ber-koar-koar dengan pengeras suara mempromosikan film yang akan diputar sambil menyebar brosur film. Tugas lain adalah memasang gambar-gambar film dalam bentuk layar dan poster di depan bioskop. Mendisain berbagai pengumuman dan iklan di atas media kaca berukuran kecil. Materi pengumuman dan iklan tersebut selanjutnya di sorot lewat proyektor film untuk dikomunikasikan ke penonton. Di masa itu, seni grafis (design grafis) tak secanggih sekarang. Semua material promo dikerjakan secara manual dan konvensional.
Tetapi ada yang membuat Eddie bersedih. Bioskop yang dulu diakuinya menjadi tempatnya ‘sekolah akting’ kini berubah menjadi sarang burung Walet dan toko. Berubah fungsi gedung penayang film tersebut tak lepas dari merosotnya jumlah produksi film yang membuat banyak pengusaha bioskop bangkrut.


***

Sejak remaja Eddie terbiasa berorganisasi. Dari mulai organisasi kepanduan, kepemudaan, profesi, sosial, politik, seni dan budaya, sampai organisasi keagamaan. Kesadaran estetiknya semakin mendalam ketika bergabung di “Sanggar Laras.” Sebuah komunitas yang menaungi para seniman lintas kompetensi; sastrawan, dramawan, penari dan pemusik, di Kisaran Asahan Sumatera Utara. Hingga kini Eddie masih aktif berorganisasi, baik sebagai pendiri, pembina, pengurus harian, maupun sebagai anggota. 

Bersama kerabat dekatnya ia mendirikan Humaniora Foundation. Sebuah institusi yang bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan dan budaya. Sesuai kompetensinya yayasan ini kemudian membantuk lembaga teknis, antara lain; Sanggar Humaniora, Rumah Singgah Bunda Lenny, dan Komunitas Seni Pemersatu Jiwa.


Dalam rangka mengembangkan visi dan misinya, lembaga ini telah melaksanakan berbagai kegiatan, baik berupa seminar, workshop, diskusi, Pelatihan Jurnalistik, Pelatihan Seni Peran, Pendidikan Sinematografi, yang kemudian dikemas dalam bentuk ”Workshop Seni dan Film Keliling Indonesia.”

Thursday, 23 July 2015

Selamat Hari Anak Nasional ( Anak Kita Masa Depan Indonesia )

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri

Masa anak-anak merupakan salah satu fase peletakan landasan tumpuan generasi penerus. Kesejahteraan anak akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.Salah satu permasalahan kompleks adalah menurunnya nasionalisme dan karakter bangsa. Akhlak mulia merupakan aspek penting dalam mendidik anak. Bahkan suatu bangsa yang berkarakter juga ditentukan oleh tingkat akhlak bangsanya. Tanpa karakter seseorang mudah melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu sangat penting untuk membentuk insan yang berkarakter karena kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti individu merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain.

Anak adalah harta yang paling berharga bagi setiap orangtua. Anak terlahir tentu dari benih-benih rasa cinta kedua orangtuanya. Setiap anak mempunyai hak untuk dicintai, dikasihi dan dipedulikan. Tipe orangtua yang ideal berkewajiban memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan fisik, mental dan kerohanian.Kebahagiaan nyata yang didapat anak dari orangtua akan menciptakan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat. Kekuatan negara kita sangatlah didasari pada kekuatan setiap keluarga. Berapa kuat pusat perhatian orangtua pada anak dan remajanya akan menciptakan fondasi yang tak tergoyahkan bagi negara ini.

====================== SELAMAT HARI ANAK NASIONAL ======================


Tuesday, 21 July 2015

RAIH MIMPIMU

Sahabat Seni Pemersatu Jiwa....Di dalam mengarungi hidup dan mengerjakan amal kebajikan jadilah orang yang mempunyai semangat dan cita-cita, gesit dan cekatan, serta tidak malas dan lamban. Karena, dunia diperuntukkan hanya bagi orang yang mempunyai semangat dan cita-cita tinggi.
Dalam hidup ini ketahuilah ketika kita mempunyai suatu ide atau rencana segeralah ditulis dan disimpan jika kita lupa. Dan lebih baik lakukan segera agar bisa langsung di praktekan apa itu ide atau rencana yang telah kita rencanakan.

Hidup harus diiringi dengan semangat dan juang tinggi, tumbuhlah bersama orang yang mempunyai semangat dan jiwa tinggi dalam mengarungi mimpi-mipi atau cita-cita yang kita impikan. Jangan pernah merasa sendiri dalam hidup yang fana ini, selalu libatkan Allah di setiap aktifitas dalam hidup yang kita jalani.

Ubahlah setiap pola pikir yang menghalangi mimpi kita dalam melejitkan mimpi, ingat disaat musibah datang janganlah berfikir seolah hidup ini kejam, tapi berfikirlah setiap musibah datang, itu semua atas kehendak Allah, karena Allah sedang mempersiapkan rencana yang indah dalam hidup kita.
Hal ini Allah sudah jelaskan dalam Al-Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 11 yaitu: 
Sesugguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Sepenggal arti ayat diatas menunjukkan bahwa, ketika kita tidak mampu untuk berubah dan diam saja apa yang terjadi tanpa ada solusinya maka kita akan tetap saja terpuruk pada tempat yang tidak akan memajukan kita. Lain haknya, ketika musibah datang dan kita bersyukur , siap menerima apapun cobaan, maka yakin dan percayalah untuk selalu berubah kearah yang lebih baik.
Yakin bahwa Allah akan selalu melihat, bersama, dan menyaksikan kita dalam setiap aktifitas yang kita lakukan.

Disetiap perjalan hidup ini kita diciptakan Allah untuk meraih ilmu, ilmu yang nantinya menjadi bekal kita di akhirat. Apapun mimpi itu, libatkan Allah disetiap perjalanan panjang dalam menggapai mimpi tersebut.
Jangan pernah goyah, jangan pernah, takut, dan jangan pernah merasa sendiri. Bermimpilah, Rasulullah juga punya mimpi. Gapai cita-cita dimana mimpi yang benar pasti dan tujuan yang baik yang akan memberi manfaat buat diri dan buat orang banyak.

Mimpi dan niat merupakan awal dari segalanya, dare to dream mengembangkan diri sendiri dan berusaha keras adalah kunci meraih masa depan yang cerah
Jika yakin dengan kemampuan diri sendiri, maka kita akan berani mencoba hal atau tantangan baru. Sukses atau gagal, tidaklah jadi masalah! Karena yang terpenting, kita jangan pernah takut untuk maju sebelum berperang!.

Man Jadda Wa Jadda !!, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti mendapat, Ingat ! selalu libatkan Allah disetiap perjalanan hidup ini.
Jadi, tanamkan dalam diri kita. Bahwa, kita yakin dan Bisa untuk menjadi Sang Pemenang dalam menggapai mimpi dan cita-cita.Jika gagal dalam menggapai mimpi. Ingat, “kuncinya hanya satu berani mencoba dan terus belajar dari kegagaln yang di alami.”



Manusia akan memiliki kekuatan yang luar biasa bila mereka mulai yakin akan kemampuan meraka melakukan hal-hal yang semula mereka kira tidak mungkin bisa mereka lakukan. Ketika manusia mulai percaya pada kemampuan mereka, mereka memiliki kunci sukses mereka yang pertama.
~  N orman Vincent Peale  ~


Inilah mimpi. Gapailah mimipi, tak ada kata menyerah dan takut, tak ada kata mengeluh. Bismillah, dan libatkan Allah

==============CINTAI BUDAYAMU || HARGAI BUDAYA ORANG LAIN===============

Saturday, 6 June 2015

MEMBANGUN OPTIMISME DALAM DIRI

Hidup memang tidak diwajibkan untuk sempurna. Dan tidak ada yang sempurna dimuka bumi. Kecuali hanya Allah swt semata. Tetapi, proses untuk berusaha menjadi yang lebih baik itulah yang wajib disempurnakan...

Seluruh amal ibadah kita, kita persembahkan kepada Allah swt dan mengharap keridhaan-Nya. Sebab, apa yang kita memiliki saat ini hanya amanah dari Allah swt. apakah kita dapat menunaikannya atau tidak. Hendaknya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita, tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan  berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah?”. Hingga dengan demikian Allah swt berfirman : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam” (AL-AN’AM:162).

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita, yaitu :
1. Husnudzan kepada Allah swt
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah ini harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat tidak ada peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak Allah, termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi. Dan seorang mukmin selalu menghadapi semua ketentuan Allah itu dengan prasangka baik. Ia mempunyai prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut Allah. Oleh karena itu ia tidak menggeruti kepada Penciptanya, ia tidak memberontak karena keputusan Allah, dan ia selalu menatap semua ujian itu dengan senyum. Ia yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu :
Diangkat dan dihapuskan Allah kesalahan dan dosa-dosanya
Dan ditinggikan derajat di sisi Allah swt
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa bersabar ia mendapat (pahala) kesabarannya, dan barang siapa gundah gulana, ia (tersiksa) karena kegundahannya.”
“Sesungguhnya mengeherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (Muslim)
Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan, dunia dan akhirat. Jangan sampai kita celaka di dunia dan di akhirat akibat prasangka buruk kita kepada Allah . Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

2. Tidak putus berdo’a
Do’a merupakan senjata orang beriman, berdo’a merupakan ibadah dan enggan berdo’a merupakan kesombongan kepada Allah swt. Salah satu contohnya adalah bangsa kita ini. Pertikaian dan permusuhan antar suku, etnis, dan antar agama, pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk, hutang negara yang kian membumbung tinggi. Mestinya, semua itu cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar. Akan tetapi kenyataannya tidak. Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak. Barang kali ada pertanyaan, “Bagaimana mana bisa?”. Kita yakin seyakin-yakinnya, itulah berkat do’a yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini, bahkan diseluruh dunia. Itu semua  berkat ratusa juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit, memohon kepada Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.

Thursday, 21 May 2015

Penghargaan Anak Bangsa Berkepribadian Pembangunan ( Rumah Singgah Bunda Lenny )

Sumber : Galamedia
Soreang. 
Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation beserta pasangan pendirinya, Lenny Susanti (almarhumah) dan Eddie Karsito, menerima penghargaan "Anak Bangsa Berkepribadian Pembangunan" dari Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi dan Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah RI di Hotel Kartika Chandra Jakarta,

"Penghargaan ini bukan tujuan. Tujuan kami melayani. Semoga penghargaan ini menjadi dorongan agar kami tetap rendah hati, sederhana, bersahaja, dan mendapat keberkahan dari Allah SWT," ujar Lee Sandie Tjin Kwang, mewakili kedua orangtuanya.

Di Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation, Lee Sandie Tjin Kwang, bertindak sebagai Ketua Bidang Pelayanan Sosial. Menurut remaja yang akrab disapa Sansan ini, saat ini tercatat lebih dari 500 orang warga binaan meliputi; pemulung, janda lansia, buruh galian, pedagang keliling, pengamen, pekerja lepas, siswa SD kurang mampu dan anak yatim. Terbagi di dua Pos Pelayanan Cibubur Bekasi, dan di Jl. Padi Endah 29 Blok S No.14 Perumahan Baleendah Permai Bandung.

Terkait dengan sumber pendanaan, terang Sansan, lembaga yang dikelolanya ini belum pernah mendapat sumbangan dalam bentuk apa pun dari pemerintah.

"Kami belum pernah dapat sumbangan dari pemerintah. Sumbangan langsung kami dapatkan dari masyarakat yang mengerti dan peduli terhadap usaha-usaha yang dilakukan rumah singgah," terang Sansan.

Humaniora Foundation adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan para artis, seniman dan pemerhati sosial. Sejak tiga tahun silam yayasan ini kemudian mendirikan Rumah Singgah Bunda Lenny.

"Nama rumah singgah Bunda Lenny ini sebagai penghormatan dan penghargaan kami kepada salah satu pendiri yayasan, yaitu bunda Lenny Susanti yang kini sudah tiada," terang Sansan.

Melalui aksi sosial "Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama" Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual.

"Dari hasil penjualan, dananya disalurkan untuk diberikan kepada para dhu'afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung," papar Sansan.

Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation juga membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.
   

Wednesday, 20 May 2015

MUGIYONO KASIDO – MASTER TARI DUNIA

Pemecah Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) Menari 36 Jam Nonstop Tahun 2011. Dikenal melalui sejumlah karyanya berupa pertunjukan tari, baik sebagai penari maupun koreografer yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.

INGIN MENGHADIRKANNYA UNTUK PUBLIK SENI DI KOTA KISARAN DALAM SEBUAH APRESIASI SENI & BUDAYA

https://www.youtube.com/watch?v=eeKp2w2uZ2Y&spfreload=1



Mugiyono Kasido lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1967 dari keluarga dalang. Sejak kecil, Mugi telah bergaul akrab dengan dunia pertunjukan dan mulai menari sejak pada usia 8 tahun, dengan dasar tari Jawa klasik. Ia memulai pendidikan formal dibidang seni tari di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta yang diselesaikannya pada 1988 kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Seni (STSI) Surakarta, lulus 1993. Dalam perjalanan karirnya, ia belajar banyak dari maestro tari seperti R. Ng. Rono Suripto dari Keraton Mangkunegaran Surakarta (1988-1990), Suprapto Suryodharmo di Padepokan Lemah Putih Surakarta (1994-1996), dan juga Sardono W. Kusumo sejak 1994.

Memulai karir sebagai koreografer pada 1992, dengan melahirkan karya tari Mati Suri yang dipentaskan di Keraton Mangkunegaran Surakarta. Tarian ini meraih Tropi Mangkunegara IX Keraton Surakarta sebagai Penyaji Terbaik Tari Kontemporer. Karya-karyanya juga dipentaskan di sejumlah festival di berbagai negara seperti, Lincoln Center Festival (Amerika Serikat), Kunsten Festival des Arts (Belgia), Goteborg Festival (Swedia), Adelaide Festival (Australia), Hong Kong Arts Festival, In Transit Festival (Jerman), Dancas na Cidade (Portugal), dan Asian Contemporary Dance Now (Jepang).

Dalam beberapa kesempatan, ia diundang mengajar workshop di sejumlah negara seperti di Jepang, Taiwan, Luang Prabang, Inggris, Portugal, Australia, Hong Kong, Amerika, maupun di Indonesia. Ia juga terlibat dalam proyek kolaborasi, antara lain program SOME SHINE (Jerman, Inggris, Israel dan Indonesia), OR LOCAL (Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jerman) serta MASKS DANCE SYMBIOSA PROJECT (Indonesia dan Thailand). Kerja kolaborasi tersebut kemudian memunculkan kerja sama dengan seniman lain dari berbagai negara, seperti Denisa Reyes (Filipina), Ramli Ibrahim, Arif Waran Saharudin (Malaysia), Waguri, Masato, Osamu Jareo, Kotta Yamazaki (Jepang), Daniel Yeung (Hongkong), Ria Haggler (Belanda), Lane Savadove, Polly Motley (Amerika Serikat), Koffi Koko (Perancis) dan lain sebagainya.

Sunday, 17 May 2015

LIFE IS PROCESS

Oleh: Syaripudin Zuhri

Tak ada kata menyerah dalam belajar dan berkarya. Tak ada kata putus asa untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada kata mundur untuk mencapai kemajuan. Terus bergerak dan berusaha sebisa mungkin, maju terus pantang mundur! Ayo bangkitlah!
Betapa banyak orang yang biasa-biasa saja pada awalnya, tapi karena semangatnya tinggi dan terus berusaha dan berjuangan menggapai apa yang dicita-citakan, pada akhirnya kesuksesan diraihnya. Apapun kata orang, bukan halangan untuk maju. Apapun pendapat orang, bukan batu sandungan yang mesti ditakuti. Apapun caci maki, hinaan orang atau mungkin ” dikecilkan ” atau ” disalahartikan ” bukan hantu yang menakutkan. Maju terus dan jangan menyerah!
Kerikil-kerikil tajam atau duri-duri yang berserakan sepanjang jalan kalau memang itu ada dihadapanmu, jangan mundur! Kalau perlu berdarah-darah dan terluka, jangan takut. Darah dan luka adalah asam garam kehidupan. Ayo bangkit terus dan bergerak maju.
Bekerja, berkarya dan berusaha dalam menempuh hidup dan kehidupan di mana saja adalah sama, akan ditemukan kesulitan, hambatan, rintangan, ujian, cobaan yang tida henti-hentinya, semakin tinggi karyamu dan usahamu, biasanya kesulitan, hambatan, rintangan, ujian, cobaannya juga semakin tinggi.
Ibarat pohon yang semakin tinggi, angin yang menghempasnya juga semakin kencang, bahkan bukan angin, namun sudah menjadi badai! Bila akarnya tidak kokoh dan kuat, maka pohon itu akan terhempas badai, patah, tumbang dan hencur berantakan.
Akar yang kokoh dan kuat itu adalah iman, energi  iman akan membuat kokoh dan kuatnya seseorang dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian hidup. Iman yang kokoh dan kuat ibarat batu karang ditengah hempasan badai laut yang ganas, dia akan tetap berdiri, tak bergeser seincipun!
Bukan akhir perjalanan yang penting, jadi apapun kamu bukan masalah, tapi proses dalam perjalanan itu yang penting. Jangan menyerah dalam perjalanan, betapapun sulit dan melelahkan perjalanan tersebut. Tiada kesuksesan bila kamu tetap diam dan pasif, tidak melangkah dan tidak bergerak.
Yang sudah berjalan jauhpun belum tentu sampai ke tempat tujuan, apa lagi yang tidak pernah berjalan, tidak pernah bergerak. Hidup penuh dengan tantangan, ujian dan cobaa! Emas berlian yang dipakai dalam mahkota para raja dan ratu, mulanya adalah bongkahan, yang kemudian digosok, diasah, dibakar, dipanaskan dan sebagainya.
Coba lihat genteng yang di atas rumah, itu awalnya adalah tanah yang injak-injak manusia kebanyakan, lalau mengapa bisa di atas? Genteng yang di atas rmah sudah mengalami cobaan, ujian, rintangan, hambatan dan lain sebagainya. Lihat saja bagimana tanah sebelaum menjadi genteng.
Tanah itu dicangkul, diinjak-injak, diaduk-iaduk dengan air, dibanting-banting, dicetak, lalu di bakar, setelah itu dijemur. Masih belum selesai, dibawa ke matrial, diperjualbelikan, dan ketika akan naik ke atas setelah mengalami berbagai macam tahap, masih ada yang pecah saat di lemparkan ke atas, saat dijemur retak-retak, saat diangkut dan bergesekan dengan sesama genteng. Jadi “memang tidak semua genteng bisa sampai ke atas rumah! Hanya genteng yang sudah teruji yang bisa sampai ke atas!”
Begitu juga manusia, untuk sampai di puncak atau di atas, maka yang tak tahan menghadapi berbagai macam hambatang, rintangan, ujian, cobaan, hinaan, caci maki, sumpah serapah dan seterusnya ya akan tetap di bawah dan atak akan pernah sukses, sukses dalam arti sempit maupun sukses dalm arti luas. Pilihannya sekarang, apakah ingin menjadi manusia sukses? Jika jawabannya “iya”, maka harus siap menghadapi berbagai macam cobaan, ujian ataupun hinaan. Tak ada jalan kesuksesan semulus jalan tol! Jalan tol saja masih ada kelokannya, masih bisa macet, bahkan bisa macet total.
Dan ibarat di jalan tolpun, yang jalan sudah begitu mulus, kecelakaan yang menimbulkan tabrakan maut tak kurang-kurangnya. Jadi di manapun perjalanan kehidupan ada saja rintangannya, ada saja hambatannya, ada saja ujiannnya, ada saja hinaannya, ada saja orang-orang yang tak suka, iri hati, dengki dan lain sebagainya. Kebanyakan manusia memang seringkali, ini sering saya ungkapkan, senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang! Itu karena banyaknya penyakit hati yang ada di dalam diri manusia.
Bila ada orang sukses,  bukannya senang, tapi susah dan mengunjingkannnya, bukannya ikut senang dan mendorongnya untuk tetap maju dan berusaha terus dalam karya. Begitulah kebanyakan manusia, coba saja lihat, jika ada berita buruk lebih banyak dibaca di media cetak atau media elektronik. Namun bila ada berita baik mengenai seseorang, berita tersebut tak dibaca.

Saturday, 16 May 2015

Seni adalah Doa

disadur dari http://www.matakubesar.com/2015/03/seni-adalah-doa.html
Foto: Imatakubesar

Di sudut halaman Kang Tisna Sanjaya yang hijau, terdapat plastik-plastik besar bening diisi udara sehingga masing-masing membentuk balon.  Semua disusun, digantung-gantung di besi tower,setiap balon plastik bening itu ada tulisan singkat, diantaranya,”Seni adalah Doa”, “Agama adalah helaan Nafas”, “Yang Maha Suci”, “Yang Maha Penyayang”, dan banyak lagi.  Kata Kang Tisna, udara-udara yang memenuhi balon plastik ini berisi hembusan doa-doa dari orang-orang.  Performingnya dilakukan di Singapura beberapa minggu yang lalu, ikatannya dibuka dan udara doa ini pun akan terbang dan dibebaskan ke langit secara bersamaan.  Diharapkan doa-doa ini akan menyebar dan sampai pada Zat-nya.  Ini sebuah proses spiritual simbolik keprihatinan Kang Tisna pada kejadian beberapa bulan lalu tentang penembakan pada pimpinan redaksi Charlie Hebdo.  Dia menjelaskan, bahwa dia tidak setuju tindakan kekerasan yang selalu mengatas namakan agama, begitupun dengan Charlie Hebdo yang kerap melakukan lelucon dan mengusik kepercayaan sebuah agama.  Menurutnya, kedua nya salah, pihak Charlie Hebdo melecehkan setiap kepercayaan tapi bukan berarti tindakan menegur dengan kekerasan bisa dibenarkan.

Saya kembali berfikir ulang tentang “seni adalah doa” ini, tingkat kedekatannya dari mana.  Akhirnya, coba-coba browsing tentang arti seni dan arti doa dan proses spitualnya seperti apa.  Bagaimana orang memperlakuan doa maupun seni dalam kehidupan sehari-harinya.  Penyambung kata “adalah” diantara seni dan doa, bukan seni atau doa, keduanya tidak ada pilihan, tapi keduanya menjadi satu jiwa, satu tindakan, satu rasa, satu kehidupan. 

Foto: Imatakubesar

Seni asal kata dari kata sani (Sanskerta) yang berarti pemujaan, persembahan dan pelayanan.   Seni, lahir dari kesungguhan.  Sebuah karya lahir dari refleksi dan merangkum keadaan yang terjadi di sekitarnya lalu muncul menjadi sebuah bentuk yang memberi sebuah pesan, cerita maupun berita.  Dalam bentuk karya ini ada harapan dan suara yang ditebarkan ke bumi, seperti benih-benih yang ditanamkan pada ladang.  Seni lahir dari cinta, ia mengirim pesan dan mengikat ingatan.  Melalui seni, kita bisa memahami kehidupan, meluaskan sudut pandang, mampu menghimpun kebaikan juga kejahatan.  Karena seni menyatukan energi yang sama.  Seni adalah hati, dapat merangkul, memahami, merangkum, meramu kegelisahan sekelompok manusia lalu membungkus dan menyatukan energi.  Seni seperti untaian doa, ia keluar dari setiap “rumah-rumah” manusia dan membentuk semesta. 
Dalam Islam, doa adalah memohon, sebuah permintaan langsung kepada Allah agar diberikan kebaikan, keberkahan, kemudahan, kesehatan, jalan keluar dari kesulitan dan lain-lain.  Bisa berarti pengharapan dan perubahan kearah lebih baik. Doa, lahir dari kesungguhan diri manusia, pemeliharaan dan penghargaan agar bisa berkolaborasi dengan semesta membentuk sebuah kehidupan. 

Seni adalah Doa.  Doa adalah Seni.  Dalam seni ada proses hidup, refleksi, harapan dan kesungguhan, dalam doa pun ada proses, refleksi, lalu muncul harapan diri pada kebaikan. Ketika doa mengalir, disana manusia berada dalam titik sadar ada kekuatan diatas kekuatan, bahwa kekuatan manusia ada zat penentu. Melalui seni ada komunikasi antar diri dan lingkungannya, melepaskan semua batas untuk mencapai sebuah harapan yang menyebar dan menular.  Seni dan doa lahir dari kesungguhan, kesungguhan adalah cinta, cinta dapat menjadi fondasi dan menumbuhkan karakter.  Cinta tentulah mestinya menebarkan benih dan melahirkan sesuatu yang baik, menumbuhkan kehidupan dan kebahagiaan dari kesungguhan dalam menjalankan setiap dentingnya. 

Dalam karya Kang Tisna ini, melahirkan simbol kesederhanaan namun tangguh dan mengikat harapan.  Karyanya seperti merangkum jejak waktu dan perjalanan yang menjadi fondasi tumbuh kuat, lalu menyebar sari-sari harapan bermuara dari hati dan pikiran. 

Sumber:

http://www.alquran-syaamil.com/2013/11/arti-dan-kekuatan-doa-menurut-islam.html 

HUMANIORA The Art of stage and Broadcasting "Di Tengah Situasi 'Serba Uang' Kami Melakukan Sesuatu Dengan 'Cinta' "





27 Januari 2010
Jurnalnet.com: Industri perfilman dan pertelevisian menjadi sihir baru bagi masyarakat. Masyarakat pun tak sekedar menjadi ‘penikmat’ suguhan hiburan. Melainkan coba-coba terjun menjadi praktisi; entah sebagai cukong (produser), kreator (crew) atau menjadi bintangnya. Tetapi tak dapat diingkari, bahwa animo terbesar masyarakat adalah ingin menjadi bintang. Lahirlah para artis pendatang baru dengan berbagai performa-nya.

Dunia seni peran pun semakin sederhana, unik dan kompleks. Seni peran menjadi bagian dari bisnis industri hiburan. Menjadi lapangan pekerjaan yang diminati banyak orang. Rumah-Rumah Produksi (production house) setiap hari didatangi orang-orang yang melamar (casting) ingin jadi artis. Bisa puluhan dan ratusan orang jumlahnya.

Tetapi tak semua orang menguasai liku-liku pekerjaan ini. Tidak sedikit orang yang datang melamar jadi artis karena ingin coba-coba. Karena sifatnya yang coba-coba umumnya mereka kurang siap. Terlebih para calon artis yang umumnya masyarakat asal daerah. Mereka tidak cukup wawasan dan pengetahuan tentang industri perfilman dan pertelevisian ini.
 Keadaan inilah yang direspon Humaniora Foundation untuk men
yelenggarakan pendidikan akting dan manajemen industri perfilman dan pertelevisian. ”Kami ingin memberikan gambaran tentang peta industri film dan televisi, manajemen produksi, pemahaman tentang dasar-dasar akting dan manfaat seni peran secara gratis,” terang Eddie Karsito, pimpinan sekaligus pendiri Humaniora The Art of Stage and Broadcasting, saat ditemui di sanggarnya.

Di saat orang-orang mengomersialkan seni peran dengan tarif jutaan rupiah, sanggar Humaniora justru melayani mereka yang ingin terjun ke industri hiburan ini secara gratis. Apa yang melatar-belakangi? ”Banyak orang ingin belajar dan menekuni bidang ini. Tetapi tak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk itu. Di tengah situasi ‘serba uang’ justru kami melakukan sesuatu dengan ‘cinta.’ Artinya ini semangat berbagi. Kami membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin belajar tanpa dipungut biaya, alias 100% gratis,” kata wartawan yang juga aktor peraih penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.
Upaya ini, lanjut Eddie, sejalan dengan misi dan visi yayasan; menolong sesama, membantu yang kurang mampu, mendidik yang tidak mampu dan mengajak individu yang mampu untuk saling berbagi. “Mewadahi berbagai kreatifitas yang didasarkan pada proses spiritualisasi keindahan, untuk kemanusiaan, kemuliaan dan keagungan. Misinya adalah kemanusiaan universal (rahmatan lil’alamiin),” ungkapnya.
Di Humaniora Foundation ini bergabung sejumlah tokoh dan pakar lintas profesi. Ada sastrawan, penulis cerita film, sutradara, aktor, aktris, penari, pesulap, pelukis, penyanyi, musisi, wartawan, fotografer, disainer grafis, guru dan lainnya. Mereka diantaranya, Yati Surachman (Aktris ), Dorman Borisman (aktor), Diding Boneng (Aktor), Dwi Sasono (Aktor), Ucup Jaka (Aktor), Ananda George (Aktor), Bambang Irawan (Sutradara), Monowangsa (Sutradara), Hany Mustofa (Sutradara), Suroso MYS (Sutradara), Putra Gara (Novelis dan Penulis Skenario), Fajar Darmanto (Design Grafic), Imam Sabaryanto (Musisi), Sabyra Nasution (Musisi), Muhammad Idris (Pelukis), Edy Bogel (Fotografer), Andi Purnama (penyiar) dan lainnya.
Humaniora The Art of Stage and Broadcasting sudah melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air. Baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian yang lain ada juga yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (penyiar).

Masyarakat yang berminat dapat datang langsung ke Humaniora Foundation di Jl. Melati Raya BS. 39 No. 32 Perumahan Kranggan Permai Jatisampurna Bekasi 17433 Phone 021.84593873 – 021.8440753 Fax 021.84593873 dan Rumah Singgah Bunda Lenny, Jl. Padi Endah 29 Blok S No.14 Perumahan Baleendah Permai Bandung 14753 Phone 022.91706993.(*)

[edi karsito, Bandung]

Saturday, 18 April 2015

" KELUARGA KU INSPIRASIKU "




aku terlahir dari  keluarga yang sederhana ,aku anak perempuan  sendiri,anak ke   3 dari 4 bersaudara,punya 2 orang abang & adik  yg masih duduk di bangku SMP. Kehidupan kami selalu bahagia, walaupun hidup kami sederhana tapi kami di bahagiakan dengan kasih sayang dari kedua orang tua kami.saya sekolah di  salah 1 SMK yg ada di  kisaran, & begitu   banyak masalah yang saya hadapi,dari tahun ke tahun setiap mau ujian mama saya harus datang ke sekolah supaya saya bisa dapat  kartu ujian ,,,karena Uang SPP yang selalu telat  bayar,kdang saya sedih kalau mamak di marah"i sama bendahara sekolah di depan orang banyak ,muka'y keliatan malu,( bner" ku rasakan pngorbanan seorang ibu),,,sempat terfikir olehku untuk berhenti sekolah. namun ibu dan ayah selalu menguatkan ku agar aku tetap melanjutkan pendidikan.                                      
 Aku harus kuat ngejalani pahit nya  selama masa2 di sekolah,tunjukan & buktikan ke ayah & mamak kalau  aku gak akan menyia2kan pengorbanan ayah & mamak selama ini, Dan alhamdulilah sekarang aku udah selesai sekolah & gak akan pernah ku lupakan perjuangan kedua orang tuaku  selama ini,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,


quote:  {  jgn sepele ma pekerja'an ortu kita ,kuat , sabar , & yakin lw kita akan di beri jalan keluar oleh  allah dari berbagai masalah yg kita hadapi,& hargai lh perjuangan ortu kita,jangan sampai pengorbanan ortu kita sia" tanpa  hasil,,,, }

( do'a ku smoga bisa jadi kebanggan keluarga & membahagiakan mereka )

by: Relawan SPJ

Wednesday, 8 April 2015

Pementasan “Opera TIM” : Refleksikan Bagaimana Kesenian Harus Dikelola



Pementasan “Opera TIM”
Refleksikan Bagaimana Kesenian Harus Dikelola

Karya seni diharapkan dapat memberi pencerahan dan penyadaran kepada masyarakat. Menjadi instrumen bagi perubahan, transformasi, kepedulian, aksi dan keadilan sosial. “Sehingga kesenian dapat menjadi tulang punggung untuk mempererat kehidupan yang lebih baik, bahagia, tenang, teduh dan harmonis,” kata pendiri Swargaloka Art and Culture Foundation, Drs. Suryandoro, kepada Wartawan, di sanggarnya di Cilangkap, Cipayung Jakarta Timur, Senin (06/04/2015).

Budaya manusia sesuai kodratnya, kata Suryandoro, mengalami perubahan. Namun peran kesenian menurutnya, tidak akan pernah berubah dalam tatanan kehidupan manusia. “Sebab, melalui media kesenian, makna harkat menjadi citra manusia berbudaya semakin jelas dan nyata. Dan seni harus bisa menjadi bagian dari usaha pendidikan moral yang dapat membangkitkan rasa keadilan,” ungkap Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Nilai-nilai kearifan seni inilah, kata Suryandoro, kemudian dikemas dalam bentuk pementasan bertajuk “Opera TIM” yang akan digelar di Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki (GBB-TIM), Sabtu 9 Mei 2015 mendatang, pukul 20.00 WIB.

Menurut sutradara pementasan ini, Sudibyo JS, Opera TIM (Taman Ismail Marzuki), adalah refleksi atas kekisruhan sistem pengelolaan TIM yang selama ini berfungsi sebagai pusat pengembangan seni dan kebudayaan. Selama puluhan tahun TIM telah dikelola Pusat Kesenian Jakarta (PKJ-TIM). Namun Peraturan Gubernur DKI Jakarta, Nomor 109 Tahun 2014, mengubah PKJ-TIM menjadi Unit Pengelola (UP) yang secara teknis di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

“Persoalan pengelolaan PKJ-TIM bukan saja menyangkut kemampuan teknis pengelolaan belaka. Tetapi terkait juga dengan masalah strategi kebudayaan, ideologi, kuratorium, program acara, ruang kreatif, kepercayaan stakeholder, dan berbagai dampak yang ditimbulkan,” kata sutradara, lulusan Penyutradaraan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Saturday, 28 March 2015

Meninggalnya Komedian Olga Syahputra Memberi Pelajaran Bagi Pelaku Industri Hiburan


Meninggalnya aktor komedian muda Olga Syahputra, harus menjadi uswah (contoh), ibrah (pelajaran), dan mau'izhah (nasehat). Setidaknya bagi pelaku industri hiburan di tanah air.
Mereka semakin asing dengan jasad tempat hidupnya yang memberi energi. Tidak memiliki kontrol atas raganya sendiri dengan alasan produktivitas. Kehilangan sisi manusiawinya -- aji mumpung -- mengejar upah, dengan alasan selagi ada kesempatan, namun mengabaikan kesehatan.
“Olga sering curhat. Dia bilang tiap hari benar-benar full kerja. Dua tahun lalu, saat acara sahur dia curhat sambil menangis. Beberapa kali mengatakan bahwa dia sebenarnya lelah. ‘Tapi mau gimana lagi’ kata Olga. Dia lebih takut kehilangan waktu, mumpung dapat kesempatan,” papar Aditya Gumay, pimpinan Sanggar Ananda, tempat dulu almarhum Olga menimba ilmu seni peran.
Aditya Gumay sempat tidak percaya bahwa Olga Syahputra sudah meninggal. Sebab beberapa kali komedian ini diisukan meninggal. Namun setelah kabar tersebut ramai diberitakan media, Aditya kemudian mencoba menghubungi keluarga almarhum. “Kali ini positif bahwa Olga benar meninggal,” kata Aditya Gumay, yang ditemui galamedianews.com, usai premier film “Ada Surga Di Rumahmu, di Bioskop XXI Epicentrum Kuningan Jakarta Selatan, Jum’at (27/03/2015).
Olga Syahputra meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura, Jumat (27/3/2015), sekitar pukul 16.17 WIB, karena penyakit meningitis yang dideritanya. Komedian kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 ini sebelumnya sempat dirawat Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, karena diduga mengalami penyakit radang selaput otak. Karena keadaan yang juga belum membaik, Olga sempat melakukan pengobatan di Jerman, hingga akhirnya melakukan perawatan di Singapura selama hamper setahun.
Menurut Aditya Gumay, Olga gabung di Sanggar Ananda sejak ia masih pelajar kelas III SMP (tahun 2001). “Dia pemuda amat sangat pemalu. Kalau lagi latihan akting dia sosok yang suka sembunyi di belakang. Sangat gugup. Tapi seiring perkembangan waktu dan ketekunannya dia bisa sukses menjadi bintang seperti sekarang,” cerita Aditya.
Masih di Sanggar Ananda dan Smaradhana Production, tahun 2002 Olga dipercaya menjadi pemeran sekaligus presenter reality show plus “Oh Seram” (ANTV).  Tayangan ini semakin populer dan mendapat rating relatif baik sehingga melambungkan nama Olga. Di tahun 2003, Olga Syahputra bersama Ruben Onsu, dan Lia Waode, kembali dipercaya untuk memperkuat drama “New Misteri” (ANTV) yang juga mendapat respon bagus dari pemirsa. Untuk semakin menancapkan eksistensinya, ketiga bakat muda ini kemudian membentuk grup komedian “Pecel Lele” (Penghibur,Centil, Lenjeh & Lemes).
Tahun 2003 Olga Syahputra, Ruben Onsu, dan Lia Waode (Pecel Lele) tampil dalam event “Ghost Mania Festival” yang diselenggarakan atas kerjasama Smaradhana Pro dan Harian Galamedia, di Sultan Plaza, Jl. Cihampelas No. 211 Bandung. “Waktu itu, mereka enggak dibayar, bisa tidur di hotel saja sudah senang. Karena waktu itu mereka memang belum bintang dan program itu bagian dari acara promosi tayangan Oh Seram dan New Mistery,” cerita Aditya.
12 tahun berlalu kenyataan pun berubah. Olga pun terasing dari nikmatnya kebersamaan dalam berkesenian, dengan ketulusan, dan kejujurannya waktu itu. Ia masuk ke dalam surga industri yang dihadirkan kapitalisme. Industri yang seakan berhak mengekspliotasi segala hal untuk memperoleh uang yang sebesar-besarnya, yang pada akhirnya Olga menjadi tumbal mesin industri hiburan dan melupakan sisi manusiawinya. “Dia sebenarnya lelah. Tapi mau gimana lagi. Dia lebih takut kehilangan waktu, mumpung dapat kesempatan.”
Sekali lagi, sakitnya Olga Syahputra hingga berpulangnya almarhum ke rahmatullah, harus menjadi uswah (contoh), ibrah (pelajaran), dan mau'izhah (nasehat). Setidaknya bagi pelaku industri hiburan di tanah air. “Jagalah kesehatanmu! Jika bukan kita siapa lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi.”/***Eddie Karsito
Jakarta, 28 Maret 2015