Sunday, 21 June 2015

Jangan Hanya Out Of Box Tapi Out Of Container

Ini merupakan filosofi yang saya dapatkan selama menjalin silaturahmi dengan Bapak Eddie karsito. Satu filosofi yang ditanamkan  untuk memotivasi kita adalah berpikirlah Out of The Box atau mungkin Out of Container, karena Box terlalu kecil untuk ukuran seorang Eddie Karsito…hehehehe…

"Berpikir "out of the box" memang sulit, bagaimana tidak? orang yg berfikir  "out of the box" harus "keluar" dari semua kebiasaannya. setelah itu, mereka mulai beradaptasi dengan pemikiran yang akan menghasilkan aktifitas "out of the box." Mereka akan menjadi kaum minoritas karena pemikirannya yang berbeda dari kebanyakan orang. sudah terbayang rasanya menjadi seperti itu. Tapi ketahuilah, orang yang berfikir "out of the box" lebih teruji mentalnya karena mereka berani keluar dari "zona aman"nya. "

Berapa hal yang perlu dimiliki untuk berpikir Out of The Box atau Out of Container
1. Keinginan untuk mengambil ide-ide baru berdasarkan perkembangan informasi
2. Fokus dan bertindak berdasarkan ide-ide yang dimiliki
3. Terbuka pada sesuatu yang berbeda dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda
4. Berusaha menciptakan nilai dengan cara-cara baru
5. Menerima segala bentuk informasi yang menjadi dasar untuk berinovasi
6. Menghormati pihak lain ketika mereka mengungkapkan ide mereka


Intinya kita harus melihat dunia luar yang begitu luas, pandai melihat peluang. Jangan hanya berpatokan pada satu hal. Bagi yang masih berpikiran berpatok pada satu hal yang sama dengan orang lain itu ga jauh-jauh maknanya dengan katak dalam tempurung. Jika kita mau terbuka untuk melihat dunia luar kita akan mendapat banyak pengetahuan dan ilmu yang mungkin tidak kita dapatkan di bangku kuliah.

Catatan terpenting saya adalah, anak-anak yang sering dikatakan nakal bagi sebagian besar pasti akan menjadi sukses. Kenapa? Karena mereka adalah orang-orang yang berani mengambil resiko dan itu anyak terjadi diantara teman – teman saya. Bukan hasil yang menjadi orientasi utama, tetapi jalan yang dilalui untuk menjadi hasil yang bagus itu adalah pengajaran yang utama.

So, jangan takut untuk tampil "beda" kawan….! Tunjukkan kreatifitasmu, dan berfikirlah "out of the box" , kalau perlu “Out Of The Container “ tetapi tentunya tetep di landasi dengan ilmu yaa…!!!



Wednesday, 10 June 2015

Menjadi Bintang :Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi

Sedangkan pada bab lain dibahas tentang manfaat belajar seni peran, latihan dasar, dan manajemen produksi. Jauh sebelum menjadi wartawan, Eddie adalah "orang kecil" yang banyak ditempa kegetiran hidup. Ia pernah jadi juru parkir, pedagang rokok, pelayan restoran, supir angkutan umum, supir pribadi, hingga pembantu rumah tangga. Menurutnya, semua itu tanpa sadar telah membentuk dirinya sebagai aktor. Sejumlah wawancara yang terekam alam Menjadi Bintang, pernah dimuat di media cetak tempat ia bekerja. Tentu telah ditambah hal-hal detail yang mengungkap fakta tersurat tanpa meninggalkan yang tersirat, sehingga buku ini tidak kehilangan bobot eksklusivitasnya *


Buku ini memang sudah yang paling lengkap –setidaknya sampai buku terakhir ini terbit. Menyoal aktivitas di lingkaran lika-liku selebritis dan tahapan proses pembuatan produksi sebuah film. Sasarannya, ditujukan khusus buat yang mau terjun ke dunia entertainment, juga diperuntukan sebagai panduan bagi mereka yang sudah menjadi artis dalam mempertahankan eksistensinya.


Dari seluruh bab yang disuguhkan, penulis memang tidak melulu bicara soal teori. Tapi justru menawarkan esensi dari sikap dan prinsip yang mesti dilakukan kalau keinginan meramaikan dunia hiburan sudah terpatri dalam diri kita.

Lainnya, pengalaman para selebritis kondang yang sudah lebih dulu  sukses juga angkat bicara menularkan kiatnya. Mereka punya tips-tips jitu dan pegangan pandangan dalam me-manage dirinya sendiri agar bisa dipakai di dunia hiburan dalam jangka waktu yang tidak singkat.



Buku ini bisa menjadi panduan bagi yang ingin terjun di industri perfilman dan pertelevisian. Pembahasannya lengkap. Penulisnya cukup kredibel. Dia berdiri di beberapa sisi profesi; aktor dan wartawan. Perspektifnya sangat kaya untuk diikuti.
—RUDI SOEDJARWO, Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2004 & Best Director MTV Indonesian Movie Awards 2006


Saya percaya apa yang ditulisnya berisi. Sebab ia menuangkan pengalaman berdasarkan apa yang dijalaninya.
—MANOJ DHAMOO PUNJABI, Produser MD Entertainment

Membaca buku ini menyadarkan kita tentang banyak hal yang mesti dipelajari. Apalagi untuk orang yang ingin berprofesi sebagai artis. Bahkan bagi orang yang sudah menjadi artis sekalipun.
—MARSHANDA, Aktris Film & Sinetron

Setiap pribadi sebenarnya selalu menarik—enggak peduli tampangnya seperti apa. Dengan rasa percaya diri orang akan termotivasi. Buku ini akan membantu membangkitkan rasa percaya diri. Apa yang dapat ditonjolkan dari diri kita. Lalu menjalankan profesi bukan atas dasar dorongan materi dan glamoritas, melainkan cinta. Cinta terhadap profesi.
—RINGGO AGUS RAHMAN, Aktor Pendatang Baru yang Dipujikan Festival Film Jakarta (FFJ) 2006 & Peraih Piala Vidia Aktor Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2007


Sekarang, kenali bakatmu. Kalau memang bakatmu benar-benar ada di sini, jangan ragu untuk mempelajari secara total dari apa yang dipesankan oleh buku terbitan ufuk ini enar ada di sini, jangan ragu untuk mempelajari secara total dari apa yang dipesankan oleh buku terbitan ufuk ini

Saturday, 6 June 2015

MEMBANGUN OPTIMISME DALAM DIRI

Hidup memang tidak diwajibkan untuk sempurna. Dan tidak ada yang sempurna dimuka bumi. Kecuali hanya Allah swt semata. Tetapi, proses untuk berusaha menjadi yang lebih baik itulah yang wajib disempurnakan...

Seluruh amal ibadah kita, kita persembahkan kepada Allah swt dan mengharap keridhaan-Nya. Sebab, apa yang kita memiliki saat ini hanya amanah dari Allah swt. apakah kita dapat menunaikannya atau tidak. Hendaknya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita, tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan  berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah?”. Hingga dengan demikian Allah swt berfirman : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam” (AL-AN’AM:162).

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita, yaitu :
1. Husnudzan kepada Allah swt
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah ini harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat tidak ada peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak Allah, termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi. Dan seorang mukmin selalu menghadapi semua ketentuan Allah itu dengan prasangka baik. Ia mempunyai prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut Allah. Oleh karena itu ia tidak menggeruti kepada Penciptanya, ia tidak memberontak karena keputusan Allah, dan ia selalu menatap semua ujian itu dengan senyum. Ia yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu :
Diangkat dan dihapuskan Allah kesalahan dan dosa-dosanya
Dan ditinggikan derajat di sisi Allah swt
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa bersabar ia mendapat (pahala) kesabarannya, dan barang siapa gundah gulana, ia (tersiksa) karena kegundahannya.”
“Sesungguhnya mengeherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (Muslim)
Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan, dunia dan akhirat. Jangan sampai kita celaka di dunia dan di akhirat akibat prasangka buruk kita kepada Allah . Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

2. Tidak putus berdo’a
Do’a merupakan senjata orang beriman, berdo’a merupakan ibadah dan enggan berdo’a merupakan kesombongan kepada Allah swt. Salah satu contohnya adalah bangsa kita ini. Pertikaian dan permusuhan antar suku, etnis, dan antar agama, pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk, hutang negara yang kian membumbung tinggi. Mestinya, semua itu cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar. Akan tetapi kenyataannya tidak. Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak. Barang kali ada pertanyaan, “Bagaimana mana bisa?”. Kita yakin seyakin-yakinnya, itulah berkat do’a yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini, bahkan diseluruh dunia. Itu semua  berkat ratusa juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit, memohon kepada Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.

Tuesday, 2 June 2015

Seni Pemersatu Jiwa

Seni Pemersatu Jiwa adalah Komunitas yang didirikan atas dasar kecintaan bukan atas dasar nafsu dan keserakahan.komunitas ini bergerak di bidang social terutama Seni dan Budaya. Seni pemersatu jiwa  mengartikan universal.mencoba untuk menyatukan individu dalam satu wadah dan menumpahkannya kedalam suatu kegiatan yang edukatif,inspiratif dan kreatifitas. Dimulai ketika berusaha mengenali, memahami, menggairahi, memberikan pengertian, mem-, membuat, berpikir kritis dan memiliki kepekaan rasa sehingga kreativitas tersebut mencapai klimaksnya ketika ditumpahkan dalam kreatifitas. Demi-kianlah harapan yang coba dibangun.

seni pemersatu jiwa dipelopori/digagas oleh Eddie Karsito dan Asrial Mirza.Atas dasar keprihatinan dan kecintaan terhadap budaya yang hampir hilang di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan Masyarakat Asahan pada khususnya yang mulai tergerus oleh invasi kebudayaan asing. Atas dasar itulah kedua orang sahabat ini berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas yang tujuannya dapat menyalurkan hobi dan bakat para generasi penerus di segala bidang dengan tujuan yang baik serta mengedukasi dan menjaga nilai – nilai kearifan budaya local. Ditengah kemerosotan nilai kebudayaan di penjuru Indonesia, maka Seni Pemersatu jiwa tampil dengan segala kerendahan hati dan I’tikad yang baik mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut bergabung dalam misi menjaga budaya dan kearifan local nusantara.Seni Pemersatu jiwa yang beralamat di Jl. Syech Ismail II No. 12 Kel.Teladan Kab.Asahan juga bekerja sama dengan Humaniora Foundation dan Humaniora the art of stage and broadcasting, yayasan yang dibentuk oleh Eddie Karsito yang berkedudukan di Jakarta.dengan adanya kerjasama ini diharapkan agar terjadi saling tukar informasi, motivasi dan edukasi.
Saat ini komunitas Seni Pemersatu Jiwa sudah memulai langkah dengan Bismillah dan hati yang bersih mengajak masyarakat dimanapun berada untuk ikut berkontribusi dalam melestarikan budaya.Dan salah satu saran yang digunakan dan sedang dipersiapkan saat ini adalah melalui media film.Karena film salah satu sarana paling efektif untuk menyebarkan pesan kebaikan dan edukasi. Melalui media film ini nanti juga diharapkan agar Asahan lebih dikenal dan membuat orang tertarik untuk dating ke Asahan. Dan juga dengan melibatkan masyarakat baik itu sebagai pemeran ataupun tim  produksi diharapkan dapat terjadi transformasi edukasi dan terciptanya para sineas – sineas dari Asahan serta menggelorakan lagi minat masyarakat untuk ikut membangun potensi yang ada di Asahan. Juga diharapkan akan  terciptanya film – film lain di Asahan yang tentu saja akan berdampak positif untuk daerah. Seni Pemersatu Jiwa juga akan mewadahi segala kreatifitas masyarakat dan tentu saja dengan tujuan untuk kembali menggali dan menjaga nilai – nilai kearifan local dan budaya yang semakin memudar.seperti kata pepatah melayu :

Lebat daun bunga tanjung  
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pesaka
 

Dengan meninjau kepada permasalahan-permasalahan yang terkait dengan rasa cinta terhadap bangsa   di lingkungan generasi muda, sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut maka diadakan    upaya-upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas di berbagai  bidang yang ada, dengan tujuan :

  • · Terbentuknya generasi yang mencintai kebudayaan dan mampu berkarya secara kreatif.
  •            Terwujudnya manusia  berbudaya.
  •      Lahirnya generasi  yang komitmen dan mempunyai kompetensi terhadap kebudayaan yang mampu memberi manfaat  dalam masyarakat.





Friday, 29 May 2015

Berhenti Mengeluh ( LIFE IS PROCESS )

Ingatlah ketika Anda masih kecil, dan mencoba belajar berjalan.  saya yakin anda mengalami seperti ini:
Pertama Anda harus belajar untuk berdiri: sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri. Anda kadang tertawa serta tersenyum, tapi dilain waktu anda menangis dan meringis karena sakit. Entah, seperti ada tekad dan keyakinan dalam diri Anda bahwa Anda akan berhasil, apa pun dan bagaimanapun. Anda punya motivasi dalam diri Anda
Setelah banyak berlatih akhirnya Anda mengerti bagaimana keseimbangan diri Anda, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Anda menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Anda akan berdiri dimana Anda suka – di tempat Anda, di sofa, di pangkuan ibu Anda, Bapak anda, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anda melakukannya! Anda dapat mengontrol diri Anda. Anda tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilan Anda.  Sekarang – langkah berikutnya – berjalan. Anda melihat orang lain melakukannya – ini keliatannya tidak terlalu sulit – hanya memindahkan kaki Anda saat Anda berdiri, kan?

Salah – ternyata lebih kompleks daripada yang Anda bayangkan. Anda berurusan dengan rasa frustasi. Tapi Anda terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai Anda tahu bagaimana berjalan. Anda selalu ingin kedua tangan anda diberi pegangan saat berjalan.
Jika orang melihat Anda berjalan, mereka akan bertepuk tangan, mereka tertawa, mereka akan memberi semangat, “Ya Tuhan, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu Anda; dorongan itu menambah rasa percaya diri Anda. Dorongan itu memotivasi Anda

Namun meski begitu, Andapun mencoba berjalan saat tak ada yang melihat Anda, saat tak ada yang bersorak-sorai? Setiap peluang ada, Anda berlatih untuk berjalan.  Anda tidak bisa menunggu seseorang untuk memotivasi Anda untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Anda belajar bagaimana untuk memotivasi diri sendiri.
Jika kita bisa mengingat hal ini tentang diri kita di hari ini.
Ingat bahwa kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati proses, seperti ketika kita belajar berdiri, seperti ketika kita belajar berjalan. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk memotivasi kita, kita perlu memotivasi diri kita sendiri.
Jika Anda sudah lupa bagaimana melakukan hal ini, atau merasa seperti beku, kaku dan gamang. Maka Anda membutuhkan motivasi, ambillah kembali perjalanan singkat dalam hidup Anda yang telah lewat – Lihatlah prestasi Anda, tidak peduli prestasi besar atau prestasi kecil – atau saat-saat dimana Anda bertemu dengan tantangan dan menemukan cara untuk berhasil. 

Ulanglah keberhasilan itu saat ini, saat anda menghadapi permasalahan yang sedang anda hadapi.Fokus pada semua hal yang Anda pikir Anda tidak bisa lakukan, kemudian lakukanlah. Lihatlah buah hati anda. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap anda, bahwa anda mampu dan bisa.  Mereka percaya di dalam semua kehidupan Anda!
Sekarang Anda harus percaya pada diri Anda! Yakinkan pada hati Anda Bahwa Anda pasti bisa.

“Ingat, hari ini adalah hari terbaik dalam hidup Anda, milikilah masa depan yang indah, dengan membuat perubahan hari ini!

Monday, 25 May 2015

Ray Sahetapy : Pendekatan Seni Peran Media Strategis Jati Diri

sumber : http://www.mediabintang.com/read-313-2014-01-22-ray-sahetapy--pendekatan-seni-peran-media-strategis-jati-diri.html#

mediabintang.com-Memudarnya wawasan kebangsaan, kata Ray Sahetapy, mengakibatkan kita kehilangan jatidiri dan hakekat kehidupan. Karenanya diperlukan re-evaluasi terhadap proses terbentuknya kebangsaan dan perubahan pembangunan karakter bangsa.

"Boleh jadi berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini berawal dari kesalahan kita dalam menghayati dan menerapkan konsep awal kebangsaan. Karenanya, evaluasi sangat diperlukan dalam membentuk kebangsaan dan karakter," kata aktor kenamaan Ray Sahetapy, kepada sejumlah wartawan, saat memberikan testimoni terkait dengan penyelenggaraan 'Workshop Seni dan Film Keliling Indonesia'  yang diselenggarakan Karya Anak Bangsa, di Jakarta, Sabtu (18/01).

Tutur Ray lagi, pendidikan karakter bangsa melalui pendekatan seni peran yang tengah dikembangan Karya Anak Bangsa, merupakan media strategis dalam rangka penguatan jatidiri. Sebab upaya ini menurutnya, bukan saja mengajarkan pemahaman keaktoran bersifat teknis, melainkan mencakup berbagai aspek, meliputi; akhlaq mulia (budi pekerti), pengetahuan, keterampilan, kreatifitas, inovasi, dan kesiapan menjadi warga yang mandiri.

Sementara itu menurut aktor yang juga pembina Rumah Seni & Film Karya Anak Bangsa, Eddie Karsito, event yang mendapat dukungan positif dari PARFI, PWI Jaya Seksi Film dan Budaya, dan Dinas Pendidikan Kota Batam ini, harapannya, agar anak Indonesia dapat belajar tentang seni.

"Melalui kegiatan ini anak-anak Indonesia dapat belajar tentang seni, seperti Musik, Vokal, Tari, Seni Rupa, Teater, Fotografi, Teknik Industri Film (Sinematografi), Teknik Industri Pertelevisian (Broadcasting), Model, Presenter, Jurnalistik, dan lain-lain," ujar Eddie.

Proses sosialisasi kegiatan 'Workshop Seni dan Film Keliling Indonesia' Karya Anak Bangsa mulai dilakukan di tahun 2014 ini. tahap awal dilaksanakan di Zona Barat, diawali di Kota Batam. Melibatkan para siswa dan siswi SMP dan SMA se Kota Batam.

"Saat ini sudah bergabung para pelajar dari 80 sekolah di tingkat SMP dan SMA sederajat, yang jumlahnya sudah ratusan pelajar. Kami berharap animonya lebih banyak lagi, mengingat masih banyak sekolah-sekolah yang belum kami kunjungi," terang Eddie Karsito, Aktor dan Wartawan Senior, yang juga bertindak sebagai Direktur Pendidikan dan Pelatihan Karya Anak Bangsa.

Heru Aceel, Direktur Program Karya Anak Bangsa mengatakan, bergabungnya para senior seni, menjadi Penasehat dan Instruktur Workshop Seni dan Film Keliling Indonesia ini dapat memberi pencerahan pada anak-anak yang mengikuti event ini.

"Mereka akan memberi pencerahan dan mentransformasikan berbagai pengalaman dan ilmunya. Melalui proses berkesenian ini kami mengharapkan aanak-anak dapat lebih mengembangkan kecerdasan intelektualnya, kecerdasan emosional, kecerdasan kreativitas, dan kecerdasan spiritual secara multi-intelegensi," ujarnya.


Kegiatan ini juga akan diadakan di kota-kota lain di seluruh Indonesia, seperti di Medan, Padang, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Banten, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, Kalimantan, Makassar, dan kota-kota lainnya.

Thursday, 21 May 2015

Penghargaan Anak Bangsa Berkepribadian Pembangunan ( Rumah Singgah Bunda Lenny )

Sumber : Galamedia
Soreang. 
Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation beserta pasangan pendirinya, Lenny Susanti (almarhumah) dan Eddie Karsito, menerima penghargaan "Anak Bangsa Berkepribadian Pembangunan" dari Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi dan Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah RI di Hotel Kartika Chandra Jakarta,

"Penghargaan ini bukan tujuan. Tujuan kami melayani. Semoga penghargaan ini menjadi dorongan agar kami tetap rendah hati, sederhana, bersahaja, dan mendapat keberkahan dari Allah SWT," ujar Lee Sandie Tjin Kwang, mewakili kedua orangtuanya.

Di Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation, Lee Sandie Tjin Kwang, bertindak sebagai Ketua Bidang Pelayanan Sosial. Menurut remaja yang akrab disapa Sansan ini, saat ini tercatat lebih dari 500 orang warga binaan meliputi; pemulung, janda lansia, buruh galian, pedagang keliling, pengamen, pekerja lepas, siswa SD kurang mampu dan anak yatim. Terbagi di dua Pos Pelayanan Cibubur Bekasi, dan di Jl. Padi Endah 29 Blok S No.14 Perumahan Baleendah Permai Bandung.

Terkait dengan sumber pendanaan, terang Sansan, lembaga yang dikelolanya ini belum pernah mendapat sumbangan dalam bentuk apa pun dari pemerintah.

"Kami belum pernah dapat sumbangan dari pemerintah. Sumbangan langsung kami dapatkan dari masyarakat yang mengerti dan peduli terhadap usaha-usaha yang dilakukan rumah singgah," terang Sansan.

Humaniora Foundation adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan para artis, seniman dan pemerhati sosial. Sejak tiga tahun silam yayasan ini kemudian mendirikan Rumah Singgah Bunda Lenny.

"Nama rumah singgah Bunda Lenny ini sebagai penghormatan dan penghargaan kami kepada salah satu pendiri yayasan, yaitu bunda Lenny Susanti yang kini sudah tiada," terang Sansan.

Melalui aksi sosial "Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama" Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual.

"Dari hasil penjualan, dananya disalurkan untuk diberikan kepada para dhu'afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung," papar Sansan.

Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation juga membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.