Tuesday, 16 May 2017

Berwisata ke Sungai Silau, Dari Asahan ke Tanjung Balai

 Sumber : https://www.semedan.com/2016/06/berwisata-ke-sungai-silau-dari-asahan-ke-tanjung-balai.html


Pernah mendengar Sungai Silau? Sungai Silau merupakan sungai besar yang membentang dari ujung selatan Kabupaten Asahan, bermuara di Kota Tanjung Balai untuk selanjutnya mengalir ke Selat Malaka. Bagi masyarakat Tanjung Balai, Sungai Silau memiliki posisi tersendiri dalam sejarah terbentuknya kota tersebut.
Menurut sejarah, ketika Kesultanan Aceh dan Kesultanan Asahan bertemu untuk mengadakan perjanjian perdamaian, Sultan Iskandar Muda yang saat itu memimpin Aceh memerintahkan mendirikan balai  di atas sebuah tanjung yang menjadi muara Sungai Silau sekaligus pertemuan antara aliran sungai Silau dengan sungai Asahan. Balai itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Tanjung Balai.
Sungai Silau merupakan sungai terbesar kedua setelah sungai Asahan dan memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat yang dilaluinya. Meski bermuara di Kota Tanjung Balai, namun sungai besar yang airnya berwarna kuning kecoklatan ini  berasal dari salah satu pengunungan Bukit Barisan.
Dari segi manfaat, Sungai Silau memberikan hasil bumi yang melimpah. Sebut saja tambang pasir, ikan, kerang dan sebagainya. Pada zaman dahulu, Sungai Silau dijadikan jalur transportasi air. Bahkan penduduk setempat percaya bahwa Sungai Silau memendam harta karun peninggalan masa kejayaan Tanjung Balai sebagai kota pelabuhan di masa lalu.
Hulu sungai Silau diketahui berasal dari salah satu pegunungan Bukit Barisan lebih tepatnya dari hutan lindung Tormatutung Asahan register 1/A, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan. Jika menilik google map, jarak antara Kecamatan Bandar pasir Mandoge dengan Kota tanjung Balai dimana sungai Silau bermuara sekitar 73 Km. Maka dapat dikatakan bahwa sungai Silau mengaliri tanah Asahan mulai dari ujung selatan hingga utara dan bermuara di Tanjung Balai.

Sebagai salah satu sungai yang memiliki peranan penting bagi kelangsungan kehidupan serta kekayaan alam Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai, Sungai Silau menyajikan wisata alam yang indah. Baik masyarakat Asahan maupun Kota Tanjung Balai banyak memanfaatkan keindahan Sungai Silau untuk dijadikan objek wisata. Berikut ini adalah beberapa destinasi wisata di sepanjang Sungai Silau.

Replika Rumah Balai



Bangunan ini berada di tanjung tempat pertemuan antara muara sungai Silau dan Aliran sungai Asahan. Lebih tepatnya di ujung tanjung, Jalan Asahan, Kecamatan Indra Sakti, Kota Tanjung Balai. Didirikannya bangunan ini bertujuan untuk mengenang sejarah asal mula berdirinya Kota tanjung Balai sebagaimana cerita di atas.
Meski hanya berupa replika, namun keberadaan rumah balai tersebut seharusnya dapat menjadi identitas kota Tanjung Balai yang pernah juga menjadi kota terpadat se-Asia Tenggara. Namun sayangnya pemerintah kota kurang menunjukkan komitmennya dalam melestarikan sejarah Kota mereka. Walhasil bangunan itu terlihat tidak menarik karena kurang terawat dan banyak sampah berserakan.

Lomba Perahu Naga

 Setiap tanggal 17 Agustus, pemerintah Kota Tanjung Balai mengadakan lomba perahu naga yang dapat diikuti oleh masyarakat Kota Tanjung Balai dan sekitarnya. Setiap peserta akan berlomba mendayung perahu yang telah dihias sedemikian rupa bak naga, mengarungi aliran sungai Silau.


Friday, 14 October 2016

Anak Adalah Aktor : Bebas Berekspresi dan Berimprovisasi

Oleh : NANA SUKMANA
Sumber : galamedianews.com


MANUSIA adalah aktor dalam sebuah pertunjukan besar bernama kehidupan dunia. Setiap manusia, harus mampu memainkan perannya sesuai dengan naskah/skenario yang telah dibuat oleh sang penulis naskah perjalanan hidup, yakni Sang Superkreator, Allah Swt. Orang yang sukses yaitu mereka yang berhasil menjalankan peran dalam pentas kehidupan dengan baik dan tidak keluar dari skenario-Nya, Alquranul Karim.
Keluarga adalah wadah atau organisasi seni peran yang terdiri atas para aktor, sutradara, musisi, penata kostum, penata artistik, dan penata cahaya. Orangtua adalah sutradara yang harus mengarahkan sang aktor agar mampu menjalankan  perannya sebagaimana yang tertulis dalam skenario.
Anak adalah calon-calon aktor yang harus dipersiapkan untuk menjadi pemeran utama dalam pentas kehidupan mereka masing-masing. Mereka harus mampu menunjukkan akting yang berkualitas agar sukses menjadi aktor hebat sarat prestasi dalam pentas superbesar.
Oleh karena itu, mereka harus ditempa berbagai ilmu pengetahuan tentang seni drama kehidupan, mulai dari olah vokal, olah pendengaran, olah penglihatan, olah tubuh, dan olah rasa. Mereka juga harus belajar membaca naskah,  memahami dan memaknai naskah –baik yang bersifat dialog maupun monolog– menjiwai peran yang akan dan harus dimainkannya sesuai naskah, serta belajar menguasai panggung. Selain itu, aktor pun harus belajar mengenal setting, musik, suasana, dan pencahayaan yang akan turut berpengaruh pada kekuatan pentasnya.
Hal yang paling penting dan tidak dapat diabaikan, sang aktor harus menurut pada setiap arahan sutradara dan tidak boleh keluar dari skenario. Kendati demikian, aktor tetap mempunyai kebebasan untuk berekspresi, mengeksplorasi seluruh kemampuannya, dan berimprovisasi selama masih berada dalam lingkaran skenario.
Orangtua yang berperan sebagai sutradara dalam pertunjukan kehidupan anak-anaknya, harus mengarahkan anak-anaknya dengan pola pembiasaan (latihan) yang terus menerus. Tanpa latihan, aktor sehebat apa pun tidak akan tampil secara maksimal.
Olah vokal. Vokal merupakan modal dasar bagi aktor. Dalam pendidikan keluarga, olah vokal bagi seorang anak harus ditafsirkan sebagai tarbiyatul lisan,  belajar menjaga lisan. Keluarga sebagai kawah candradimuka harus mampu membentuk anak yang memiliki lisan yang baik. Setiap anak sejak lahir harus diperkenalkan dan diarahkan untuk mengucapkan kata-kata yang baik (qaulan kariman), berkata-kata benar (qaulan siddiqan), dan tetap menjaga artikulasi pengucapan sehingga kata-katanya menjadi sangat tegas dan bisa dipahami (qaulan syadidan).
Dalam tahap berikutnya anak harus dilatih untuk menjaga agar setiap ucapannya mempunyai makna bagi dirinya (qaulan tafaqqah), memiliki kedalaman, menyenangkan, tidak menyakiti lawan biacaranya atau siapa pun yang mendengarnya, dan selalu mengandung makna positif serta jiwa optimistis.  Hal ini sesuai dengan yang diucapkan Rasulullah saw, “Siapa pun di antara kalian yang mengaku sebagai orang beriman hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik. Jika tidak bisa, maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tentu saja pola pelatihan ini harus melalui metode keteladanan. Anak akan merekam semua yang diucapkan orangtua; semua yang dilihat, didengar, dan dialaminya akan disimpannya dalam hardisc (otak), sehingga suatu saat nanti setelah dewasa, anak akan membuka memori dan mempraktikkan apa yang didapatnya dari orangtua. Masa ini, dalam ilmu psiskologi disebut dengan fase imitasi. Dengan demikian, pada masa inilah pola pendidikan melalui pembiasaan dan keteladan sangat akurat karena daya serap otak anak sangat kuat. Kita boleh jujur pada diri sendiri, kapan kita mengenal angka satu? Kapan kita tahu bahwa satu ditambah satu sama dengan dua? Kapan kita mulai hapal di luar kepala kelima sila dalam Pancasila berikut lambang-lambangnya? Ayat Alquran yang kita ucapkan dalam salat lima waktu, kapan kita hapal? Pasti kita menjawab, “Waktu sekolah di SD”. Semua peristiwa di masa kecil akan terekam dengan jelas sampai seseorang memasuki masa tua.
Olah pendengaran. Sebagai sutradara, orangtua harus membimbing anaknya agar memiliki pendengaran yang bagus. Potensi kemampuan pertama yang dimiliki manusia setelah lahir adalah pendengaran (sam’a) lalu diikuti oleh penglihatan (abshar) dan perasaan (af-idah). Orangtua harus melatih dan membiasakan anak-anaknya hanya untuk mendengar hal-hal yang baik. Itulah sebabnya dalam ajaran Islam, ungkapan kalimah tayibah diperdengarkan sejak anak lahir. Artinya, kata-kata yang dia dengar dari orangtua dan keluarganya hanyalah kata-kata yang baik, bermakna, bergairah, menyenangkan, optimistis, dan kata-kata yang memacu semangat hidup.
Anak yang selalu mendengar kata-kata kasar dan makian, akan tumbuh menjadi anak-anak yang kasar, keras hati, pemarah, dan cenderung menjadi pembangkang. Sebaliknya anak yang selalu mendengar kata-kata yang lembut dan baik, bernada positif, mengandung optimisme, dan menggairahkan, akan tumbuh menjadi anak yang ramah, santun, pandai menghargai orang lain, dan selalu optimistis.
Olah penglihatan. Mata merupakan salah satu alat indera yang paling penting. Oleh karena itu, orangtua harus mampu memanfaatkan ketajaman indera mata anak-anaknya karena mata pun mampu merekam semua peristiwa, baik yang jelek maupun yang baik, yang kemudian akan diteruskan ke otak dan disimpan dalam memori. Stimulus apa pun, baik benda, warna, maupun peristiwa yang dilihat mata akan terekam secara baik. Kita tahu bentuk gelas, piring, meja, dan buku merupakan hasil rekaman (persepsi) mata kita.
Jika setiap hari penghilahatan (mata) anak disuguhi peristiwa-peristiwa negatif, tindak kekerasan, pelecehan seksual, pornoaksi, kesewenang-wenangan, dal lain-lain, maka setelah dewasa dia akan menjadi orang yang cenderung bersikap kasar, agresif (menyerang), mendominasi orang lain, keras kepala, dan tinggi hati.
Olah tubuh. Olah tubuh dan olah raga agak sedikit berbeda, tetapi keduanya mempunyai objek yang sama, yakni tubuh/fisik kita. Olah tubuh memiliki dua dampak positif bagi anak-anak. Pertama, anak-anak akan tumbuh menjadi sosok yang sehat. Islam menganjurkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan jiwa. Rasulullah mengajarkan anak-anak pada masa itu belajar menunggang kuda dan memanah, bukan semata-mata untuk bela diri melainkan untuk kebugaran dan kesehatan. W.R. Supratman pun menyadari hal itu, sehingga beliau mengatakan untuk mengisi kemerdekaan ini, setiap warga harus membangun jiwa dan raga. Jiwa dahulu, baru raga. Secara implisit lagu "Indonesia Raya" mengandung makna pendidikan budi pekerti dan kesehatan/kebugaran.
Kedua, olah tubuh berkaitan dengan gesture, bahasa tubuh (body language). Orangtua yang berperan sebagai sutradara akan memaksimalkan pengetahuan tentang bahasa tubuh pada anaknya. Dia tidak akan mengajarkan cara berjalan yang loyo yang menunjukkan kelemahan, tetapi juga tidak akan mengajarkan cara berjalan yang menunjukkan sikap arogan, sebagaimana yang diingatkan Allah, “Janganlah kalian berjalan di muka bumi ini dengan langkah yang menunjukkan kesombongan”. (QS. Luqman : 18) 
Sutradara yang baik akan mengajarkan ekspresi keramahan yang tulus ikhlas, tutur sapa yang santun,  penglihatan/tatapan lembut penuh kasih sayang, dan pendengaran tajam yang tertuju pada kebaikan. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra : 36)

Sunday, 7 February 2016

Istana Niat Lima Laras ( Saksi Sejarah Yang Terabaikan )


Inilah Istana Niat Lima Laras. Sebuah situs peninggalan sejarah masyarakat Melayu pesisir. Istana ini lebih dikenal dengan nama Lima Laras. Meskipun namanya tidak sebesar dan tenar dari Istana Maimun di Medan, namun Istana yang dibangun pada tahun 1907 dan selesai 1912 ini, menyimpan kisah perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia, dimasa penjajahan Belanda. Terutama perjuangan masyarakat Melayu ketika itu.Mengunjungi dan melihat langsung kondisi Istana Lima Laras di Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara seakan berada di masa lalu. Tak heran Istana penuh nostalgia dan kenangan, ini masih dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun manca negara, ketika memasuki hari libur dan hari-hari besar. Menuju Istana Lima Laras butuh waktu lebih kurang 3 jam dari pusat Kota Medan, atau lebih kurang 120 km melalui jalan darat Medan menuju Kabupaten Batubara. Sejarah dan awal berdirinya Istana Lima Laras inipun semakin seru untuk ditelusuri.Sesuai dengan namanya, Istana Lima Laras berada di Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. Walaupun sedikit terlihat usang, namun Istana Lima Laras masih berdiri kokoh, ditengah keberagaman dan kemajuan zaman saat ini. Bahkan umur Istana inipun telah mendekati 1 abad. Namun sayang istana yang sempat megah disepanjang abad 20 ini, kurang mendapat perhatian serius sebagai situs peninggalan sejarah budaya Melayu dan bangsa Indonesia .
Warna hijau dan sedikit kelihatan kusam pada bangunan Istana Lima Laras, seolah menjadi icon kemegahan Istana. Namun sayang itu hanya sebuah kiasan belaka. Bila kita memasuki bahagian dalam Istana Lima Laras ini, kondisinya sangat memprihatinkan. Lantai dan dinding bangunan Istana masih berbahan kayu, dan hampir sebahagian sudah lapuk tanpa perawatan bahkan rusak termakan usia. Padahal sesungguhnya bangunan Istana ini, sangat  mengagumkan. Hampir keseluruhan bahan bangunan Istana, menggunakan kayu ukiran bernuansa Melayu. Keseluruhan dinding, jendela, dan pintu, bentuknya sangat unik dan menakjubkan karena penuh dengan lukisan dan ukiran yang cantik.

Wednesday, 27 January 2016

Tari Serampang 12 Sergai Raih Rekor MURI

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Ir H Tengku Erry Nuradi MSi mengapresiasikan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang telah melaksanakan pagelaran Tari Serampang 12 yang diikuti 4.320 siswa-siswi se-Sergai. Tarian Serampang 12 yang dilaksanakan Sergai memecahkan Rekor MURI yang sebelumnya diraih Kota Medan tahun 2009.
"Kita beri apresiasi yang tinggi kepada Pemerintàh Kabupaten serdang Bedagai dan seluruh stakeholder yang telah menyelenggarakan pagelaran Tari Serampang 12 dengan penari terbanyak dan telh memecahkan Rekor MURIi," kata Erry Nuradi saat menghadiri acara Pagelaran Tari Serampang 12 dalam rangka HUT Kabupaten Serdang Bedagai ke 12, Rabu (6/01), di Lapangan Sepakbola Batang Terap Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.
Turut hadir pada acara tersebut Ketua dan anggota DPRD Kabupaten Serdang Bedagai dan unsur FKPD Kabupaten serdang bedagai, Kepala Dinas Pariwisata Sumut Elisa Marbun, para kepala SKPD kabupaten Sedang Bedagai, tokoh masyarakat Ir Soekirman, koordinator Sumut USAID Prioritas dan anggota, tim penilai Muri Osman Semesta Susilo dan para siswa-siswi dari 17 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai.
Menurut Erry, kegiatan pagelaran Tari Serampang 12 dalam rangka HUT ke 12 Kabupaten Serdang Bedagai bukan hanya sekedar pertunjukkan seni tari dan budaya, juga meriah Rekor MURI, melainkan memiliki makna luas untuk menanamkan rasa kecintaan masyarakat khususnya generasi muda terhadap budaya bangsa yang maha karya sekaligus dapat menumbuhkan semangat melestarikan dan membangun budaya bangsa sebagai bangsa yang berkarakter.
Pada kesempatan itu, Erry menghimbau kepada seluruh masyarakat Serdang Bedagai, untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena saat ini masyarakat dihadapakan pada era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), agar bisa bersaing dengan negara lain.
"Tentunya masyarakat harus bsrkualitas dan innovatif. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di negeri sendiri, melainkan harus bisa menjadi pemain," ujar Erry.
Erry juga berpesan kepada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai untuk terus melestarikan adat budaya lokal yang merupakan warisan kekayaan bangsa. Dia berpesan, agar pada hari Jumat, para siswa-siswi mamakai pakaian tradisional Sergai, yakni teluk belanga, sebagai bentuk kecintaan umtuk melestarikan adat budaya lokal.
Sementara itu, Pj Bupati Serdang Bedagai, Ir Alwin Sitorus MSi mengajak seluruh masyarakat, agar pagelaran tari serampang 12 yang dilaksanakan tahun 2016 ini sebagai momentum terbaik pembinaan seni budaya dan pendidikan yang dapat menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap Kabupaten Sergai serta Tari Serampang 12.
"Melalui pentas ini diharapkan kita akan semakin mengetahui sekaligus memahami ragam budaya Sergai terkhusus Tari Serampang 12 yang diciptakan asli putra Serdang Bedagai yang telah meluas ke seluruh wilayah dan telah menjadi warisan budaya nasional," sebutnya.
http://www.ceritamedan.com/2016/01/tari-serampang-12-sergai-raih-rekor-muri.html

Tuesday, 19 January 2016

Air Terjun Ponot (Keindahan Alam Asahan)

Kabupaten Asahan dikenal atas sungai Asahan yang mengalir jauh hingga ke Selat Malaka. Dimana salah satu asal aliran Sungai Asahan tersebut berasal Air Terjun Ponot. Air terjun adalah aliran air yang jatuh dari ketinggian menuju dasar sungai membentuk seperti kolam.
Mengunjungi tempat pemandian Air Terjun Ponot bisa menjadi salah satu alternatif mengisi liburan. Objek wisata yang terletak di Desa Tangga, Kecamatan Aek Song-Songan, Sumatera Utara ini menawarkan pemandangan yang masih sangat asri. Hutan hijau dan air mengalir dari ketinggian 250 meter melewati celah bebatuan besar menciptakan kesejukan di bawah permukaan air.
Selain menjadi objek wisata, air terjun ini juga dimanfaatkan sebagai generator utama pembangkit listrik Kabupaten Asahan. Derasnya air yang jatuh ke dasar sungai akan terasa menyegarkan meskipun terik membakar hari. Berbeda dengan air terjun pada umumnya, air terjun ini memiliki tiga tingkatan sebelum akhirnya jatuh ke dasar air. Hal tersebut menjadi pelengkap keindahan Air Terjun Ponot. Fasilitas yang terdapat di tempat ini belum terlalu banyak, hanya ada beberapa penjual tenda yang menyediakan makanan dan pakaian ganti bagi Anda yang tidak membawa pakaian ganti.

Untuk mencapai puncak jatuhnya air terjun, Anda harus berjalan kaki melewati terjal bebatuan alam kasar. Perlu berhati-hati karena ruas jalan yang tidak terlalu lebar dapat membuat Anda tergelincir bila sedang ramai. Jangan khawatir, si sisi kanan akan terdapat bebatuan besar untuk menjadi pegangan. Anda dapat mengunjungi tempat ini diakhir pekan maupun hari libur panjang sebab akan lebih menyenangkan jika tempat ini sedang ramai.

Terdapat dua jalan yang dapat ditempuh untuk sampai ke lokasi ini. Pertama, Anda dapat melewati akses Medan-Tebing Tinggi-Kisaran hingga akhirnya memasuki simpang Pulau Raja. Butuh waktu kurang lebih 3 jam dari simpang Pulau Raja, jalanan belum sepenuhnya mulus sebab akan ada bebatuan halus di tengah perjalanan. Sebelum sampai Anda akan menemukan PTPN 4 dan disuguhkan dengan pemandangan Air Terjun yang juga aliran dari Air Terjun Ponot seperti Air Terjun Bedeng dan Si Gura-Gura. Kedua, Anda dapat melewati akses Medan-Siantar-Parapat-Porsea yang kemudian memasuki daerah Aek Song-Songan. Melewati jalan kedua ini, di sepanjang perjalanan Anda akan disuguhkan dengan pemandangan danau yang indah sehingga Anda tidak akan merasa kebosanan.

Air yang masih jernih dan dingin menjadi alasan mengapa banyak pengunjung yang datang meskipun lokasinya jauh dari pusat kota. "Menurut saya pemandangan disini bagus, Airnya deras, jernih, dan dingin. Oke lah pokoknya," ungkap Dini, yang merupakan salah satu pengunjung di tempat ini.
Bila penasaran, Anda dapat merasakan kesejukan Air Terjun Ponot dengan memasuki permukaan air, tentu saja hawa dingin yang menyegarkan menusuk badan. Meski membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke tempat ini, tetapi semua itu akan terbayarkan dengan keindahan yang mempesona dan menyejukkan.

***http://www.ceritamedan.com***

Wednesday, 13 January 2016

Masjid Agung Ahmad Bakrie

Masjid Agung Ahmad Bakrie Kisaran terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, tepatnya di seberang kantor Bupati Asahan.

Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pertama kali pada hari Rabu tanggal 5 Agustus 2015 Masehi, bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Acara peresmian penggunaan ditandai dengan sholat Zuhur berjamaah bersama Bupati Asahan, H. Taufan Gama Simatupang disertai silaturahmi Pemkab Asahan bersama SKPD, FKUB, Forkopinda, tokoh masyarakat dan agama, camat, lurah dan kades bersama ratusan masyarakat.

Masjid termegah di Asahan ini mulai dibangun sejak tahun 2011. Dikuti dari situs resmi Pemkab Asahan, peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh Abu Rizal Bakrie.







Masjid ini berdiri di atas lahan eks HGU PT Bakrie Sumatra Plantations (BSP) seluas empat hektar dengan empat menara dan dua lantai. Jika dilihat dari kejauhan mesjid ini memiliki desain model bangunan yang mirip dengan Taj Mahal di India. Disebutkan juga, bahwa dana pembangunannya bersumber dari APBD Asahan dan sumbangan umat muslim. Bertindak sebagai ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM Syafii.

http://www.armansyah.my.id

Wednesday, 6 January 2016

FlashBack Kebahagiaan yang hilang (melalui permainan anak)

Mau tidak mau,suka tidak suka dengan semakin berkembangnya teknologi yang begitu pesat hingga merambah wilayah daerah/pedesaan, semakin menjadikan alasan sebuah kepraktisan salah satu sebab mengapa banyak anak2 yang enggan melakukan permainan tradisional. Dengan ketergantungan mereka akan permainan2 yg lebih modern & berteknologi, seorang anak berpikir tanpa perlu ketergantungan dengan orang lain. Maksudnya mereka bisa bermain sendiri tanpa harus mencari teman seperti halnya permainan tradisional yang membutuhkan beberapa pemain (2 atau lebih pemain).
Sepintas memang terlihat tdk begitu mengkhawatirkan dan para orang tua juga merasa lebih senang karena kalo anak2 mereka tidak bermain yang berbahaya atau membuat baju jadi kotor. Padahal dengan membiarkan anak2 tenggelam dalam permainan yang berbau teknologi tsb akan merusak mental&perkembangan jiwa mereka. Sehingga akan tumbuh menjadi seorang yang egois serta individualis dan enggan bekerja keras karena sudah terpola berpikir praktis.
Kenapa?karena dalam permainan tradisional secara tidak langsung akan mengajari mereka untuk lebih kreatif, hidup bersosialisasi, kekompakan, dan melatih fisik (seperti halnya berolahraga). Ada berbagai macam permainan tradisional diantaranya:

Layangan

Permainan layangan ini sangat begitu mengasyikkan, karena kita dituntut supaya gigih agar layangan tersebut bisa naik tinggi ke langit. Saya bukan saja senang menaikkan layangan tersebut ke langit tetapi juga pandai untuk membuatnya. Menaikkan layangan ini juga membutuhkan sedikit teknik, agar layangan itu dapat dikontral naik ke atas dan menghindari menukit ke bawah.

Layangan ini juga membutuhkan tali yang sesuai dengan daya tegangannya, agar benang tidak terlalu kendor ataupun putus saat sudah melayang ke atas. Benang yang terlalu kendor mngakibatkan menurunnya ketinggian layangan, sedangkan benang yang putus disebakan karena benang tersebut terlalu tipis sehingga tidak mampu menahan tegangan saat angin berhembus kencang ataupun saat benang bergesekkan dengan benang layangan orang lain. Hal yang menyebalkan, apabila layangan tidak bisa naik karena mesti di atur dulu regangan di “taraju”  itu bahasa di daerah Minang kampung saya. Atau saat layangan naik tapi malah nyangkut di pohon ataupun di tiang listrik, lebih parahnya saat layangan itu putus, kalau mau kembali layangan mesti jadi pelari marathon yang bisa juara satu ditambah lagi pandai panjat tebing kalau layangannya putus nyangkut di pohon atau di atas rumah orang. Itulah sedikit cerita saat aku main layangan dulu. 

Sunday, 20 December 2015

BOYBAND “LAKI” Spirit Estetis “Jangan Marah”

Agama dan seni memiliki bilik-bilik spiritual yang hampir sama. Keduanya merupakan sistem nilai dan sistem simbol, yang menuntut para penganut atau pelakunya untuk selalu menghidupi segala dimensinya. Sementara fitrah manusia memiliki potensi teologis (iman-keyakinan), berpikir (pengetahuan yang bersifat empiris) dan ber-olah rasa (naluri keindahan yang bersifat estetis). Ketiganya merupakan kesatuan integral untuk merengkuh manfaat (rahmatan lil’alamiin).
“Pemikiran inilah yang melatar belakangi proses kreatif kami dari Humaniora & Positif Art Management, yang melahirkan berbagai ekspresi dan kreativitas seni manfaat. Salah satunya melalui grup vokal pria (boyband) LAKI,” ungkap Sujana, Produser dari grup boyband anyar ini, kepada galamedianews.com, di markasnya, di Cibubur Jakarta, Jum’at (4/12/2015).
Grup vokal pria (boyband) “LAKI” memiliki filosofi makna, bahwa : LAKI itu pemimpin. LAKI itu kemuliaan, kewibawaan, harkat, dan martabat. LAKI itu tangguh. LAKI itu melindungi. LAKI itu memelihara. LAKI itu tanggung jawab. LAKI (baca juga lucky : beruntung). Sebab LAKI lebih baik dari yang lain.

Thursday, 1 October 2015

Kesaktian Pancasila

Tepat tanggal 1 oktober, kita kembali memperingati hari yang sangat krusial bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Mungkin kini banyak yang lupa atau bahkan melupakan hari kesaktian Pancasila, sebab seiring perkembangan teknologi dan informasi yang semain pesat, kita pun seakan terbius untuk melupakan sejarah yang sangat penting sebagai wujud terbentuknya dasar negara kepulauan, Indonesia.
Peringatan Kesaktian Pancasila ini berakar pada sebuah peristiwa tanggal 30 September  1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G.30.S/PKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.
Pada saat itu setidaknya ada enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun, berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka, tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila dalam sejarah Republik Indonesia.
Pancasila tentulah mengandung nilai filosofi yang sejak dahulu telah lahir dan ditumbuhkembangkan oleh nenek moyang kita. Maka, sudah sepantasnya kita harus kembali merenungkan dan menelaah kembali sudah sejauh mana penyelenggaraan serta pencapaian bangsa dan negara ini dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai pandangan hidup
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, merupakan pedoman tingkah laku bagi warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia merupakan sari dan puncak dari sosial budaya yang senatiasa melandasi tata kehidupan sehari-hari.
Tata nilai sosial budaya yang telah berkembang dan dianggap baik, serta diyakini kebenarannya ini dijadikan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai bagi bangsa Indonesia. Sumber nilai yang terkandung tersebut yakni, (1) keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, (2) asas kekeluargaan, (3) asas musyawarah mufakat, (4) asas gotong-royong, serta (5) asas tenggang rasa.

Sunday, 27 September 2015

APA KABAR BUDAYA NEGERI ?

Banyak generasi penerus bangsa yang acuh tak acuh terhadap bangsanya sendiri. Tidak percaya ? Coba tanya remaja sekarang, siapa itu wonder girls ? siapa itu super junior ? sebagian besar dari mereka pasti tahu jawabannya. Tapi bagaimana jika pertanyaan yang diajukan adalah, dari mana asal Tarian Gubang? Apa jawabannya?

Saya coba menanyakan hal ini langsung kepada seorang siswa sekolah menengah atas. Ketika diajukan pertanyaan pertama tentang wonder girls tadi, sang remaja putri ini dengan lugas menjawab, "Wonder Girls itu girls band gitu loh yang dari Korea yang cantik-cantik sama sexy-sexy."

Lalu tibalah pada pertanyaan kedua. Mendengar pertanyaan tersebut saya ajukan, remaja cantik ini langsung menatap saya heran sambil mengernyitkan dahinya. "Gubang?, emang ada ya bang nama tarian kayak gitu?"

"Ada dong!" jawab saya. "Gubang itu tarian daerah yang asalnya dari Asahan "Oh.." katanya sambil lalu.

Melihat kenyataan di atas. Tidak dapat dipungkiri, posisi kebudayaan negeri sendiri mulai tergeser dengan budaya dari negeri orang. Tidak dapat dipungkiri, semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu tujuan pun mulai terkikis dari hati masyarakat Indonesia yang pada akhirnya merubah keadaan sosial masyarakat itu sendiri.

Bagaimana itu bisa terjadi ?

Banyak faktor yang menyebabkan perubahan sosial di dalam masyarakat. Soejono Soekanto menyebutkan 8 faktor yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Factor tersebut antara lain mencakup sistem pendidikan yang semakin maju, sikap menghargai hasil karya orang lain, sistem yang transparan di masyarakat, toleransi terhadap perbuatan menyimpang, ketidak puasan masyarakat terhadap bidang - bidang kehidupan yang akhirnya menimbulkan kebosanan, masyarakat yang heterogen dan anonym, hingga kepada semakin mudahnya kontak dengan masyarakat luar yang akhirnya menyebabkan terjadinya pencampuran budaya.

Dewasa ini, Hal - hal baru selalu terlihat lebih menarik dibandingkan dengan sesuatu yang memang sudah lama ada. Istilahnya, kalau sudah lama ada itu sudah basi! Sudah tidak penting untuk dibahas. Kebalikannya, kita sebagai anak muda itu harus selalu up to date terhadap hal-hal baru. Justru kalau kita tidak tahu trend terbaru, kita bisa dibilang kampungan. Nggak mengikuti perkembangan jaman.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya bagi saya adalah perkembangan jaman seperti apa yang seharusnya diikuti oleh generasi muda kita?

Sunday, 13 September 2015

Film: Aset Budaya Bangsa yang Harus Dilestarikan....!

disadur dari http://perfilman.pnri.go.id/artikel/detail/106



Oleh: Kalarensi Naibaho


Pengantar

Di suatu pagi di sebuah perpustakaan, seorang siswa SMU sedang sibuk mencari literatur berupa buku atau bahan pustakamengenai Loetoeng Kasaroeng. Gurunya menyuruh membuat esai mengenai legenda dari Jawa Barat itu. Siswa tersebut pun larut dalam bacaan dan literatur yang diperolehnya di perpustakaan. Beberapa buku dan majalah dilahapnya sampai memiliki bahan yang cukup banyak untuk membuat suatu esai. Namun dalam lubuk hatinya, siswa tersebut ingin sekali melengkapi informasi untuk esai itu dari film tentang Loetoeng Kasaroeng yang terkenal itu. Tapi, kemana harus mencarinya?

Di tempat lain, seorang mahasiswa sedang dilanda kebingungan. Pasalnya, mahasiswa sastra tersebut sedang menyelesaikan skripsi mengenai dialek masyarakat Jakarta di era 60 sampai 70an. Beberapa literatur yang dibacanya tidak dapat memberikan gambaran jelas mengenai dialek yang ditulisnya.Mahasiswa tersebut yakin bahwa jika seandainya ada koleksi audio visual seperti film yang dapat dia akses dengan mudah, pastilah skripsinya akan lebih sempurna. Tapi, dimana dapat memperolehnya?

Di sebuah kampus, seorang dosen muda sedang getol-getolnya melakukan penelitian mengenai cara masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari sejak era lima puluhan sampai dekade sembilan puluh. Literatur yang ada cukup banyak memberi informasi dan gambaran mengenai topik tersebut, tapi dosen tersebut merasa akan lebih lengkap jika dapat melihat sebuah naskah dalam bentuk audio visul. Film misalnya. Tapi, dimana mencarinya?

Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa masyarakat cukup menyadari tentang keberadaan film sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Sama seperti buku yang memiliki masa dan pembacanya, maka film pun memiliki jaman dan pemirsanya. Terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya, film tetaplah bagian dari budaya sebuah bangsa. Dan sebagai bagian dari khasanah budaya bangsa, seharusnya film juga mendapat perlakuan yang sama dengan koleksi lain. Film harus mudah diakses masyarakat luas.

Tulisan ini tidak bermaksud mengkaji persoalan kualitas atau mutu sebuah film, namun lebih fokus pada pelestarian dan akses ke film sebagai bagian dari informasi yang mencerminkan perkembangan budaya bangsa Indonesia.




Mengapa film?

Ada beberapa pengertian tentang film. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (1990 : 242), film adalah selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop). Film juga diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup. Dari definisi yang pertama, kita dapat membayangkan film sebagai sebuah benda yang sangat rapuh, ringkih, hanya sekeping compact disc (CD). Tapi di sisi lain, pengertian ke dua memberi gambaran yang lebih kompleks, sebagai perekam sejarah yang baik.

Monday, 24 August 2015

Apa kata gadis asal Venlo Tentang Asahan

Ini adalah gadis belia asal Venlo Limburg Nederland. Kandidat kuat pemeran Annemie, dalam film “Annemie in Buitengewesten” garapan sutradara asal Kisaran, Eddie Karsito.
Usianya baru 16 tahun. Namun pemikirannya melampaui batas usianya. Ia penulis fiksi (novel), selain penyanyi dan pencipta lagu.  Menguasai 5 bahasa; Belanda, Inggris, Prancis, Indonesia, dan bahasa daerah (Jawa).
Kisah hidupnya memiliki kemiripan dengan sosok Annemie, wanita yang dikisahkan dalam film“Annemie in Buitengewesten.”Annemie (22 tahun), adalah warga negara Belanda, mahasiswi Universiteit van Amsterdam, jurusan ilmu sejarah, seni dan budaya. Ia datang ke Indonesia (Medan, Kisaran, Tanjung Balai Asahan, Batubara) dalam rangka studi/observasi melengkapi penyusunan tesis program S2 untuk mendapat gelar Magister Humaniora.
“Wonen in Asahan gaat om een lang verhaal. And Make me stay longer here (Tinggal di Asahan akan menjadi cerita panjang. Dan membuat saya tinggal lebih lama di sini,” kata gadis asal Venlo Limburg Belanda ini, saat berkunjung ke Seni Pemersatu Jiwa – Humaniora Foundation, Jakarta. Rabu, 22 April 2015 lalu.
Apa yang mendorong si cantik bule yang mendukung produksi film Annemie in Buitengewesten ini? “De geest van jullie waarderen (menghargai semangat kalian),” katanya singkat dengan senyum mengembang.
“Een nieuwe ervaring voor mij als een meisje uit Venlo Limburg Nederland. Ik zou graag willen weten hoe u ondersteunen een cultuur met andere culturen blijven ontvangen. Vasthouden aan de waarden voor de styling van je hart en geest. Ik denk dat het is spannend, en het laat me blijven hier veel langer, of misschien voor altijd. Hoop dat de Asahan een "nieuwe huis" voor mij….”
“Ini pengalaman baru bagi saya sebagai seorang gadis dari Venlo Limburg Belanda. Saya ingin tahu bagaimana cara Anda mempertahankan budaya dengan tetap menerima budaya lain. Dan kita harus berpegang teguh pada nilai untuk menata hati dan pikiran. Saya pikir itu menarik, dan itu membuat saya tinggal di sini lebih lama, atau mungkin selamanya. Berharap Asahan "rumah baru" untukku….,” kata gadis yang namanya hanya ingin dikenal sebagai Annemie.
 “Annemie in Buitengewesten” adalah potret cerita silam, kini dan esok, yang menyoal “Toean Keboen”  dan “Koeli Kontrak” di era kolonial Belanda. Tentang manusia Jawa, yang terdorong menjadi buruh perkebunan di Sumatera Timur. Melahirkan peradaban baru (akulturasi budaya) menjadi ”Jawa Deli” atau ”Pujakesuma” (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Tentang cinta kasih abadi sang Noni, anak “Toean Keboen” dengan pemuda Jawa tampan, pemain Sandiwara tradisi (Ludruk), anak “koeli kontrak” di Keboen Goerah Batoe Asahan.

Monday, 17 August 2015

KEMERDEKAAN YANG TERBELENGGU

Tak terasa sudah 70 tahun Bangsa Indonesia Merdeka.NAMUN setiap kali kita merayakan kemerdekaan selalu timbul pertanyaan mendalam di dasar hati, benarkah kita sudah merdeka seutuhnya? Keresahan kehidupan berbangsa selama ini menjadi cermin nyata bahwa kemerdekaan itu lebih merupakan seremonial dan simbol belaka.
 
Sebagai bangsa, kemandirian diri sering tidak bisa kita tunjukkan. Apa yang menjadi prinsip-prinsip kehidupan berbangsa kita bahkan, disadari atau tidak, lebih banyak ditentukan bukan oleh diri kita sendiri.
Kita hanya merdeka dalam pengertian upacara. Sebagai bangsa merdeka, kita justru lebih banyak melahirkan ma nusia dengan jiwa terpenjara. Manusia yang terbelenggu oleh penjajahan gaya baru, baik oleh elite bangsa sendiri maupun bangsa lain. Itulah kondisi sepanjang kemerdekaan selama ini. Begitu sering diperingati sekaligus kita abaikan makna hakikinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan tidak menjelma dan menjiwai kehidupan sehari-hari. Demi kepentingan jangka pendek, sebagaimana dicontohkan dalam teladan para elit, kemerdekaan bahkan sering digadaikan dalam belenggu kenikmatan sesaat.
 
Bangsa merdeka tidak hanya merdeka dari belenggu penjajahan, tetapi merdeka sejati ketika mampu menentukan masa depannya tanpa tergantung kekuatan lain. Bangsa ini memang sudah merdeka sebagai bangsa, tetapi belum merdeka dari ketergantungan pada kekuatan hitam pemodal yang mendikte cara berkehidupan, berpikir, bertindak, dan bernalar. Bangsa ini selalu dikendalikan kekuatan itu yang mengakibatkan orientasi bangsa hanya mencari hal-hal yang memuaskan indra.
Merdeka, menurut para pendiri Republik, dimaksudkan sebagai sebuah kebebasan atas penindasan dan perbudakan dari kolonialisme. Kalau makna kemerdekaan ialah berakhirnya sejarah kolonialisme yang ditandai dengan sifat eksploitasi manusia, yakni manusia hanya dijadikan alat produksi semata, berarti kita sekarang belum merdeka seutuhnya. Kita baru merdeka dalam tahap simbol formal bahwa Indonesia tidak dijajah negara lain secara fisik. Kita belum merdeka dalam arti yang digariskan founding fathers.
 
Faktanya ialah sebagian besar rakyat kecil masih sering berada di alam pemerasan dan kekerasan oleh elite politik, penguasa, dan pemodal. Alam yang seharusnya diolah demi kemakmuran rakyat nyatanya hanya digunakan untuk kemakmuran sebagian sangat kecil orang. Sebagian kecil orang itu mungkin sudah merasa merdeka, tetapi sebagian besar masyarakat belum merasakan kemerdekaan dalam arti demikian. Sumber alam bukan untuk kepentingan mereka, melainkan demi kepentingan para pemilik modal.
Dengan demikian, refleksi kemerdekaan seharusnya diletakkan dalam sebuah pertanyaan besar, sejauh mana bangsa ini mempertanyakan kembali cita-cita kemerdekaan yang mendasar.
Kita harus bisa menjawab pertanyaan, apakah kemerdekaan adalah situasi ketika kita sebagai bangsa sebenarnya tidak lebih dari sebagai `kuli di negeri sendiri’? Apakah kemerdekaan adalah hilangnya kebebasan untuk menentukan hari depannya sendiri?
 
Bangsa ini semakin lama semakin kehilangan orientasi dasar menjadi bangsa yang memiliki kemandirian dalam menentukan hari depannya. Hari depan kita semakin suram karena rakyat miskin semakin miskin. Realitas tersebut tidak membuat kita sebagai bangsa tergugah. Kemerdekaan yang selama ini diharapkan memberi ruang bagi ekspresi kebebasan rakyat dari eksploitasi penjajahan-secara politik, sosial, maupun ekonomi–realitasnya belum sepenuhnya demikian. Realitasnya, selama ini kita merdeka masih dalam keadaan dibe lenggu elite-elite kita sendiri dan kekuatan modal.
 
Kenyataan itulah yang membuat bangsa ini semakin tak berdaya menghadapi tata dunia yang tidak lagi mengenal belas kasih terhadap manusia miskin. Jumlah kaum miskin di negara berkembang terus meningkat karena proses pemiskinan itu terjadi melalui pola-pola yang halus dan sistematis. Salah satu cara utamanya ialah dengan menciptakan ketergantungan kepada sistem ekonomi global.
Aktivitas kehidupan dalam mengisi kemerdekaan sering terbelenggu pada upacara yang penuh dengan simbol belaka. Itulah yang membuat bangsa ini tidak mampu lagi memaknai arti kemerdekaan yang paling esensi.
Cita-cita kemerdekaan sirna bila bangsa ini tidak berani berubah menjadi `autentik’. Bangsa yang autentik ialah bangsa yang berani mengambil risiko terhadap pilihan alternatif dalam mengembangkan jati diri kebangsaannya. Jati diri kita memang telah dirumuskan dengan baik dalam tujuan kemerdekaan, yakni untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan kebodohan. Akan tetapi, jati diri itu terkubur karena elite politik lebih suka berkompromi dengan para pemilik modal besar daripada dengan rakyat. Itulah yang membuat orientasi dasar kemanusiaan dan keadilan tidak berkembang karena pendidikan hanya untuk menciptakan manusia pragmatis.
 

Saturday, 1 August 2015

Jangan Lelah Berusaha ( Keep Spirit )

Saat badai dan cobaan datang menerjang kehidupan kita, tak jarang kita mengeluh dan berputus asa, seolah tak sanggup menerima dan menjalani ujian yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita.
Dada seakan sesak, nafas menjadi lebih berat sewaktu kita mengetahui jika sebuah ujian tengah menghampiri kita. Ketakutan akan tak bisa melalui ujian tersebut serta keengganan hidup terus-terusan menderita, membuat kita terus khawatir dan mengeluh setiap saatnya.

Namun, jika kita melihat lebih jauh, sebenarnya masih ada begitu banyak orang diluar sana yang dilahirkan dengan keterbatasan dan kekurangan yang tentu saja hal ini membuat pergerakan mereka menjadi terbatasi. Namun hebatnya, beberapa orang ini tidak pernah mengeluh atau merasa malu untuk terus berjuang dan berusaha. Semua kekurangan dan keterbatasan yang mereka miliki dianggapnya sebagai sebuah anugerah dari Tuhan yang harus mereka syukuri apapun kondisinya. Sehingga hal inilah yang mampu membuat mereka bisa menghasilkan karya dan mencetakan namanya pada daftar orang-orang luarbiasa.

Perjuangan yang kita hadapi tentu tidak berjalan dengan begitu mudah. Keterbatasan dan kekurangan tentu saja menjadi hambatan besar bagi kita, belum lagi beban moral harus kita tanggung. Namun dengan tekad yang bulat dan kerja keras yang tanpa henti. Kita harus bisa membuktikan pada dunia. Mungkin memang benar, langkah awal selalu menjadi langkah yang paling sulit dalam kehidupan. Dan mungkin ini juga yang kita rasakan sejak kita memutuskan untuk melakukan sesuatu dan mengawalinya dengan langkah pertama. Jatuh, terluka, menangis, putus asa, ingin menyerah mungkin juga pernah kita alami.

Namun sebuah hal besar yang harus senantiasa kita tiru dan kita teladani adalah kemauan untuk bangkit dan meneruskan perjuangan. Berjuang, bangkit dan meneruskan apa yang sedang kita perjuangkan adalah hal yang luar biasa. Semangat yang tidak pernah padam, keinginan yang tinggi dan ketidakputus asaan untuk terus mencoba dan berjuang adalah hal luar biasa yang seyoganya dapat kita terapkan.

Tidak mudah melakukan perjuangan dan menekui satu bidang yang beberapa orang mengganggap hal itu sulit. Namun, karena rasa ingin bisa yang begitu tinggi dan tekad yang bulat yang ada dalam diri kita, membuat kita bisa menggapai apa yang kita inginkan, meskipun beberapa orang meragukan dan bahkan membuat semangat hampir padam dengan meremehkan kita. Kita bukanlah satu-satunya orang yang paling menderita didunia ini. Sebab masih banyak diluar sana, yang tengah berjuang menaklukan hidup dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Mari berharap agar kita semua untuk tidak mudah putus asa dan kehilangan semangat dalam berjuang dan menggapai semua impian kita. Sebab sejatinya dengan berjuang, berdoa dan berusaha, semua hal akan menjadi mungkin.



============= KEJUTKAN ORANG LAIN DENGAN GAGASANMU ==================


Monday, 27 July 2015

JANGAN KALAH OLEH KEADAAN

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
Tidak ada perjalanan yang lurus dan mulus. Semua memiliki hambatan, rintangan, dan tantangan yang berbeda. Di samudera yang luas membentang, ombak dan badai siap menghempaskan dan menenggelamkan. Di daratan, kerikil-kerikil tajam, jalan berlumpur dan berlubang, hingga tebing dan jurang yang curam tersedia untuk menghambat perjalanan. Hingga nan jauh tinggi di udara, awan hitam nan tebal, kabut, hujan dan petir juga dapat menghentikan perjalanan panjang kita.
Namun demikian, perjalanan tak boleh berhenti dan harus terus dilanjutkan, karena ini bukanlah akhir dari perjalanan. Beginilah kehidupan, kita terus berpacu melawan dan mengalahkan setiap rintangan yang datang menghadang. Tak ada kata berhenti, sebab berhenti sama maknanya dengan menunggu dan menjemput kehancuran. Berhenti sama dengan mati.

Kisah Syekh Az-Zamakhsyari dan Semut
Syekh Az-Zamakhsyari adalah seorang ulama yang ahli dari banyak cabang ilmu pengetahuan agama dalam sejarah Islam. Namun beliau lebih terkenal sebagai ulama ahli gramatika bahasa arab (nahwu). Bagi Syeikh Az-Zamakhsyari, menjadi seorang yang menguasai ilmu bahasa merupakan prestasi dan keberhasilan yang luar biasa. Betapa tidak, sejak usia dini telah mempelajari ilmu nahwu, tetapi hingga dewasa beliau tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.
Bayangkan selama bertahun-tahun belajar, untuk membedakan antara subyek (fa’il) dan obyek (maf’ul bih) saja tidak bisa. Sementara teman-temannya telah mampu mengajar untuk adik-adik kelasnya. Kenyataan ini nyaris membuat az-Zamakhsyari putus asa. Ia merasa amat malu dengan usianya yang semakin tua tetapi tidak tahu apa-apa, apalagi dia harus duduk dan belajar dengan anak-anak yang jauh di bawah usianya.
Akhirnya, beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat belajarnya. Ketika beliau telah berjalan cukup jauh, beliau singgah di sebuah gubuk kosong. Ketika sedang beristirahat, beliau melihat seekor semut merah kecil, yang menggigit dan menarik sisa buah kurma yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya untuk dimasukkan ke sebuah lubang di tanah. Berkali-kali ia melakukannya, namun selalu gagal, sisa kurma itu selalu jatuh ke tanah. Az-Zamakhsyari terpaku dan merasa kagum dengan kelakuan semut yang memiliki keuletan yang luar biasa mengagumkan itu.
Setelah berkali-kali gagal, akhirnya semut itu berhasil juga membawa sisa kurma tersebut masuk ke dalam lubang. Saat itulah terbetik pikiran dalam benak az-Zamakhsyari, ”Seandainya aku melakukan seperti yang semut itu lakukan, niscaya aku akan berhasil.” Setelah mengucapkannya, lalu ia memutuskan kembali belajar dan membatalkan niatnya untuk berhenti. Hasilnya az-Zamakhsyari benar-benar berhasil meraih impian dan cita-citanya. Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya terukir tekad, semangat dan etos kerja. Karakter tersebut memang akan membuat orang tak mau menyerah. Bahkan seekor semutpun menghayati semangat ini, apalagi kita manusia.

Hamparan Bumi Masih Sangat Luas
Terkadang terpaan dan guncangan hidup membuat dunia seakan teramat sangat sempit. Langkah kaki begitu terbatas. Dalam pandangan kita, hanya ada satu pintu, di dalam ruang pengap tanpa cahaya. Dalam masa seperti inilah hanya dengan keimanan kita dapat mencari pintu-pintu lain untuk keluar dari kegelapan. Karena sejatinya dalam setiap masalah tentu terdapat banyak pintu untuk keluar. Karena kesulitan dan kemudahan selalu berjalan berdampingan.
Berhenti dalam sebuah kesusahan adalah jalan menuju kehancuran. Kita ddiciptakan bukan untuk menjadi manusia yang gagal. Karena itu kita harus terus melangkahkan kaki, menapaki setiap celah yang ada. Seperti air yang terus mengalir, mencari celah yang dapat dilewati, lalu diam menggenangi serta mengumpulkan kekuatan untuk merobohkan beton yang menghadang.

Sunday, 26 July 2015

KEAKTORAN & KEWARTAWANAN " Profesi Tiada Henti Mengaktualisasi Diri"

Eddie Karsito
BIODATA  PRIBADI

Nama Lengkap
EDDIE KARSITO
Tempat & Tanggal Lahir
Sei Silau - Kisaran Asahan, 24 November 1961
Profesi
WARTAWAN, AKTOR TEATER, FILM & SINETRON
Pendidikan Formal
Pendidikan Guru Agama (PGA) Cokroaminto
Kisaran Asahan Sumatera Utara
Pendidikan Non-formal

Insight Studies and Development Institute Yogyakarta


Eddie Karsito. Aktor, sutradara, organisator, penulis, wartawan, guru, dosen, instruktur seni peran, motivator dan seabrek profesi. Aktif, kreatif, produktif, dan ‘an enterprising young man’  inilah predikat yang pas untuk pria kelahiran Kisaran Sumatera Utara, 24 November 1961 ini.

Di tengah pergulatannya sehari-hari sebagai jurnalis, kadang ada saja kawan yang menanyakan; kenapa tidak berhenti saja jadi wartawan, lalu secara total terjun di dunia seni peran. Pertanyaan tersebut dapat dimaklumi. Sebab selama ini Eddie dikenal oleh teman-temannya -- bukan saja sering bersama mereka menjalankan tugas-tugas jurnalistik (sebagai wartawan) -- melainkan kadangkala muncul di sejumlah tayangan sinetron dan film layar lebar.


Keaktorannya dibangun lewat tempa dan desak kehidupan. Mulai dari juru parkir, pedagang rokok, pelayan restoran, kuli bangunan, supir angkutan umum, supir pribadi, hingga pembantu rumah tangga. Sejak usia sepuluh tahun Eddie Karsito sudah ber ‘teater’ – melalui proses alami pergi dan pulang sekolah setiap hari dengan berjalan kaki sejauh 16 kilometer tanpa alas kaki. Bahkan tak jarang ia telanjang dada, menyibak embun pagi dan menyusuri hutan sabana.

Sebagai anak keluarga ‘perantau’ dari Jawa (Magetan Jawa Timur), Eddie sempat menikmati keluar masuk hutan menggarap ladang berpindah. Tinggal di tengah hutan tanpa tetangga bersama orangtuanya. Menjadi buruh perkebunan karet dan kelapa sawit, di Asahan Sumatera Utara. Oleh karena itu, tak heran jika pemahaman aktingnya pun terbentuk oleh alam (Teater Kehidupan).


Ketika masih menjadi pelajar di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Cokroaminoto di kota kelahirannya, Eddie bekerja paruh waktu menangani masalah promosi di sebuah bioskop, Ria Theatre. Setiap hari selepas sekolah tugasnya keliling kota ber-koar-koar dengan pengeras suara mempromosikan film yang akan diputar sambil menyebar brosur film. Tugas lain adalah memasang gambar-gambar film dalam bentuk layar dan poster di depan bioskop. Mendisain berbagai pengumuman dan iklan di atas media kaca berukuran kecil. Materi pengumuman dan iklan tersebut selanjutnya di sorot lewat proyektor film untuk dikomunikasikan ke penonton. Di masa itu, seni grafis (design grafis) tak secanggih sekarang. Semua material promo dikerjakan secara manual dan konvensional.
Tetapi ada yang membuat Eddie bersedih. Bioskop yang dulu diakuinya menjadi tempatnya ‘sekolah akting’ kini berubah menjadi sarang burung Walet dan toko. Berubah fungsi gedung penayang film tersebut tak lepas dari merosotnya jumlah produksi film yang membuat banyak pengusaha bioskop bangkrut.


***

Sejak remaja Eddie terbiasa berorganisasi. Dari mulai organisasi kepanduan, kepemudaan, profesi, sosial, politik, seni dan budaya, sampai organisasi keagamaan. Kesadaran estetiknya semakin mendalam ketika bergabung di “Sanggar Laras.” Sebuah komunitas yang menaungi para seniman lintas kompetensi; sastrawan, dramawan, penari dan pemusik, di Kisaran Asahan Sumatera Utara. Hingga kini Eddie masih aktif berorganisasi, baik sebagai pendiri, pembina, pengurus harian, maupun sebagai anggota. 

Bersama kerabat dekatnya ia mendirikan Humaniora Foundation. Sebuah institusi yang bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan dan budaya. Sesuai kompetensinya yayasan ini kemudian membantuk lembaga teknis, antara lain; Sanggar Humaniora, Rumah Singgah Bunda Lenny, dan Komunitas Seni Pemersatu Jiwa.


Dalam rangka mengembangkan visi dan misinya, lembaga ini telah melaksanakan berbagai kegiatan, baik berupa seminar, workshop, diskusi, Pelatihan Jurnalistik, Pelatihan Seni Peran, Pendidikan Sinematografi, yang kemudian dikemas dalam bentuk ”Workshop Seni dan Film Keliling Indonesia.”